Newestindonesia.co.id, Kelompok pro-Iran dilaporkan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk memproduksi meme berbahasa Inggris yang menargetkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebagai bagian dari upaya memengaruhi opini publik global di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Menurut laporan Associated Press (10/4), kampanye digital ini menunjukkan evolusi baru dalam perang informasi, di mana propaganda tidak lagi terbatas pada media tradisional, melainkan merambah ke konten viral berbasis AI di media sosial.
Konten yang diproduksi mencakup meme satir hingga animasi bergaya budaya populer Amerika, yang secara khusus dirancang agar mudah dipahami oleh audiens Barat.
Target Opini Publik Barat
Para analis menilai strategi ini bertujuan membentuk persepsi global terhadap konflik dengan menggambarkan tokoh politik AS—terutama Trump—secara negatif.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa meme-meme tersebut “menggunakan referensi budaya Amerika dan humor satir” untuk menjangkau audiens yang lebih luas dan meningkatkan daya sebar di platform seperti media sosial.
Beberapa konten bahkan mengangkat isu sensitif seperti kondisi kesehatan Trump, konflik internal Amerika, hingga topik kontroversial lainnya.
AI Jadi Senjata Propaganda Baru
Fenomena ini menandai pergeseran signifikan dalam taktik propaganda modern. Jika sebelumnya propaganda identik dengan pesan formal dan kaku, kini pendekatan yang digunakan jauh lebih kreatif dan berbasis hiburan.
Salah satu kelompok yang disebut dalam laporan adalah Akhbar Enfejari, yang memproduksi animasi berkualitas tinggi, termasuk video bergaya Lego. Mereka mengklaim sebagai kelompok independen, meskipun kontennya turut diperkuat oleh media pemerintah Iran.
Seorang analis yang dikutip AP menyebut bahwa operasi ini kemungkinan tidak sepenuhnya independen, mengingat “akses internet di Iran sangat dibatasi dan kontennya sangat canggih,” sehingga menimbulkan dugaan adanya dukungan negara.
Ketimpangan Perang Narasi
Laporan tersebut juga menyoroti bahwa Amerika Serikat dan Israel dinilai belum mampu menandingi skala maupun kecanggihan propaganda digital ini.
Meski beberapa konten berbasis AI juga diproduksi oleh pihak lain, termasuk oleh tokoh seperti Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, namun pendekatannya dinilai belum seefektif kampanye pro-Iran dalam menarik perhatian publik global.
Era Baru “Perang Meme”
Para pengamat menyebut fenomena ini sebagai bagian dari “perang meme”, di mana narasi konflik tidak hanya ditentukan di medan tempur, tetapi juga di ruang digital.
Perkembangan ini memperlihatkan bagaimana AI kini menjadi alat strategis dalam perang asimetris—memungkinkan pihak tertentu memengaruhi opini global tanpa kekuatan militer besar.
Selain itu, kemunculan konten-konten ini juga menimbulkan kekhawatiran tentang meningkatnya disinformasi, terutama karena konten AI sering kali sulit dibedakan dari materi asli.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login