Newestindonesia.co.id, Kabar duka menyelimuti jagat maya setelah informasi mengenai meninggalnya selebgram populer Lula Lahfah (26) beredar luas di media sosial, disertai foto yang menggambarkan kondisi terakhirnya di sebuah apartemen di Jakarta Selatan. Fenomena itu justru memicu peringatan dari ahli kesehatan jiwa soal pentingnya etika dan empati saat berbagi konten sensitif di dunia digital.
Foto yang mengklaim memperlihatkan momen Lula ditemukan tak bernyawa pada Jumat (23/1/2026) viral pada berbagai platform online. Namun, terlepas dari benar atau tidaknya foto tersebut, penyebaran gambar seperti ini menuai keprihatinan dari para profesional karena dampaknya bisa jauh lebih besar daripada sekadar informasi.
Psikiater Ungkap Bahaya Psikologis dari Penyebaran Foto Sensitif
Psikiater dr. Lahargo Kembaren, SpKJ menegaskan bahwa penyebaran foto semacam itu di ruang publik dapat menjadi luka emosional tambahan — terutama bagi keluarga dan orang terdekat yang tengah berduka.
“Bayangkan duka keluarga yang belum pulih, lalu harus melihat ulang kematian orang tercinta, sekaligus menghadapi komentar, spekulasi, dan penyebaran foto di ruang publik. Ini bisa memperpanjang proses berduka dan memicu complicated grief.” — dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, Seperti dikutip melalui detikHealth.
Baca di halaman selanjutnya >>>




You must be logged in to post a comment Login