Newestindonesia.co.id, Nama aktor Jepang Sota Fukushi mendadak menjadi pusat perbincangan tajam di kalangan publik Korea Selatan setelah keterlibatannya dalam drama Korea terbaru Can This Love Be Translated? memicu gelombang boikot dari sebagian penonton.
Drama yang diproduksi oleh Netflix itu resmi tayang sejak 16 Januari 2026, menampilkan kisah romansa antara Cha Mu Hee (Go Youn Jung) dan penerjemah pribadinya Ju Ho Jin (Kim Seon Ho), namun menarik perhatian publik bukan hanya karena alur ceritanya, tetapi pilihan pemeran yang dinilai kontroversial.
Rekam Jejak Karier Sota Fukushi
Sota Fukushi merupakan aktor asal Jepang yang sudah malang-melintang di industri hiburan sejak awal 2010-an. Ia mulai dikenal luas berkat perannya sebagai Gentaro Kisaragi dalam Kamen Rider Fourze dan kemudian berperan dalam sejumlah film serta drama seperti Bleach, Strobe Edge, dan My Tomorrow, Your Yesterday.
Keterlibatannya dalam Can This Love Be Translated? menandai debutnya dalam drama Korea, dimana ia berperan sebagai Hiro — karakter yang jatuh cinta pada tokoh utama Cha Mu Hee, namun cintanya tidak berbalas.
Asal Mula Polemik: Pernyataan Masa Lalu
Polemik bermula dari pernyataan Fukushi pada sebuah program televisi Jepang, Fuji TV, yang tayang pada 15 Agustus 2015 — hari peringatan berakhirnya Perang Dunia II di Asia. Dalam acara tersebut, ia mengungkap kisah keluarganya terkait perang:
“Kakek saya juga menghadapi akhir perang sambil berlatih menjadi kamikaze. Saya menghormati kakek saya. Kita berada di posisi kita sekarang berkat mereka,” dikutip melalui media Preview.
Ucapan ini kemudian kembali mencuat setelah teaser drama dirilis, dan menimbulkan reaksi negatif dari sebagian netizen Korea Selatan (K-Netz). Mereka menilai pernyataan itu sensitif karena menyentuh luka sejarah Perang Pasifik yang melibatkan kolonialisasi Jepang terhadap Korea.
Seruan Boikot dan Tuduhan ‘Sayap Kanan’
Respons keras dari sejumlah penonton Korea muncul dalam bentuk seruan boikot drama tersebut dan penolakan terhadap Fukushi. Aksi ini menyebar cepat melalui media sosial dengan berbagai tagar penolakan dan kritik terhadap keterlibatan aktor Jepang itu.
Beberapa netizen bahkan menempelkan stigma negatif kepada Sota Fukushi, menuduhnya memiliki pandangan “sayap kanan” atau pro-militerisme karena penghormatan terhadap kisah kakeknya tersebut — sebuah label yang semakin memperkeruh perdebatan di komunitas daring Korea.
Respons Industri dan Publik
Hingga saat ini, baik Sota Fukushi, para pemain lain, maupun tim produksi Can This Love Be Translated? belum memberikan klarifikasi resmi terkait kontroversi yang berkembang. Netflix tetap melanjutkan penayangan drama tersebut tanpa perubahan jadwal.
Meski demikian, reaksi publik tidak seragam. Sementara sebagian menuntut boikot, ada juga penonton yang menikmati drama itu dan memuji kualitas cerita serta chemistry para pemerannya, termasuk karakter yang dimainkan oleh Fukushi.
Kontroversi ini mencerminkan dinamika kompleks dalam hubungan sosial dan historis antara Korea Selatan dan Jepang, dimana isu budaya populer sekalipun mampu terseret oleh percikan sejarah panjang yang masih beresonansi di masyarakat. Ketidakpuasan publik terhadap keterlibatan artis Jepang dalam produksi Korea tidak hanya soal hiburan, tetapi juga soal narasi sejarah yang sensitif di masing-masing negara.
(DAW)




You must be logged in to post a comment Login