Newestindonesia.co.id, Sikap egois kerap menjadi sumber konflik dalam hubungan sosial, baik di lingkungan keluarga, pertemanan, hingga dunia kerja. Tanpa disadari, kebiasaan selalu mengutamakan diri sendiri dapat melukai orang lain dan merusak kepercayaan yang telah dibangun bertahun-tahun.
Psikolog menyebutkan bahwa egoisme bukanlah sifat bawaan semata, melainkan pola perilaku yang terbentuk dari pengalaman hidup, tekanan emosional, hingga cara seseorang memandang dirinya di tengah lingkungan sosial. Kabar baiknya, sikap egois masih bisa dikoreksi melalui kesadaran dan latihan yang konsisten.
Mengenali Tanda-Tanda Egoisme dalam Diri
Langkah pertama mengoreksi diri adalah berani jujur pada diri sendiri. Beberapa ciri sikap egois yang sering muncul antara lain:
- Sulit menerima kritik
- Selalu ingin menang dalam perdebatan
- Kurang peduli pada perasaan orang lain
- Mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan dampaknya
- Merasa kebutuhan pribadi selalu paling penting
Mengenali pola ini bukan untuk menyalahkan diri sendiri, melainkan sebagai awal perubahan yang sehat.
Belajar Mendengarkan Secara Empatik
Salah satu obat paling efektif melawan egoisme adalah mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Bukan sekadar menunggu giliran berbicara, tetapi memahami sudut pandang lawan bicara.
Cobalah bertanya:
- “Bagaimana perasaanmu tentang hal ini?”
- “Apa yang kamu harapkan dariku?”
Empati membantu kita keluar dari pusat perhatian diri sendiri dan melihat dunia dari kacamata orang lain.
Mengendalikan Dorongan untuk Selalu Benar
Ego sering muncul dalam bentuk keinginan untuk selalu menang. Padahal, hubungan yang sehat bukan soal siapa yang benar, melainkan bagaimana menemukan solusi bersama.
Belajar mengalah bukan berarti kalah, tetapi menunjukkan kedewasaan emosional.
Biasakan Mengucapkan Maaf dan Terima Kasih
Dua kalimat sederhana ini memiliki dampak besar. Meminta maaf mengajarkan kerendahan hati, sementara mengucapkan terima kasih melatih penghargaan terhadap peran orang lain dalam hidup kita.
Keduanya menjadi latihan praktis untuk menekan ego yang berlebihan.
Evaluasi Diri Secara Berkala
Luangkan waktu untuk refleksi, misalnya sebelum tidur atau di akhir pekan:
- Apakah hari ini saya menyakiti orang lain dengan sikap saya?
- Apakah saya terlalu memaksakan kehendak?
- Apa yang bisa saya perbaiki besok?
Kebiasaan ini membantu perubahan berlangsung bertahap namun konsisten.
Lingkungan yang Mendukung Perubahan
Bergaul dengan orang-orang yang terbuka, jujur, dan saling menghargai akan mempercepat proses perbaikan diri. Lingkungan positif berperan besar dalam membentuk sikap yang lebih rendah hati dan peduli.
Mengoreksi diri dari sikap egois bukan proses instan, tetapi perjalanan kesadaran yang berkelanjutan. Dengan mengenali kekurangan, melatih empati, serta terbuka pada perubahan, seseorang dapat membangun hubungan yang lebih harmonis dan kehidupan sosial yang lebih sehat.
Perubahan kecil yang dilakukan hari ini bisa membawa dampak besar bagi masa depan.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login