Newestindonesia.co.id, Esther Aprilita Sianipar, salah satu pramugari senior yang menjadi korban dalam kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT), meninggalkan keluarga dan rekan kerja dalam duka mendalam setelah insiden tragis yang terjadi di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.
Pesawat rute Yogyakarta–Makassar itu hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026, sekitar pukul 13.17 WITA dan kemudian ditemukan di lereng pegunungan, memicu operasi pencarian dan evakuasi yang masih berlangsung.
Perjalanan Karier dan Latar Belakang Pribadi
Esther lahir dari pasangan Adi Sianipar dan J. Siburian, serta merupakan anak sulung dari tiga bersaudara. Ia dikenal sebagai pribadi yang tangguh dan menjadi teladan bagi adik-adiknya, meskipun kesibukannya sebagai awak kabin pesawat.
Sebagai pramugari, Esther mengabdi selama sekitar 6–7 tahun, melayani berbagai rute penerbangan dan dikenal sebagai staf senior yang berpengalaman. Meski berasal dari keluarga keturunan Batak, Esther dan keluarganya menetap di Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Komunikasi Terakhir dan Kondisi Pencarian
Sebelum kejadian, Esther sempat berkomunikasi dengan keluarga melalui pesan singkat pada Jumat, 16 Januari 2026, ketika ia berada di Yogyakarta.




You must be logged in to post a comment Login