Newestindonesia.co.id, Gelombang pengunduran diri karyawan muda belakangan semakin sering terjadi. Generasi Z atau Gen Z—kelompok yang lahir sekitar 1997 hingga 2012—disebut menjadi generasi yang paling cepat mengambil keputusan resign dari tempat kerja dibanding generasi sebelumnya.
Fenomena ini tak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga secara global. Media sosial dipenuhi cerita karyawan muda yang memutuskan keluar dari pekerjaan tetap, bahkan baru bekerja beberapa bulan.
Pertanyaannya, apakah Gen Z mudah menyerah? Atau justru dunia kerja saat ini yang terlalu menekan?
Tekanan Kerja Jadi Alasan Utama
Banyak Gen Z mengaku bukan soal gaji yang membuat mereka pergi, melainkan tekanan mental yang dirasakan sejak hari-hari awal bekerja.
Target tinggi, jam kerja panjang, budaya lembur, hingga atasan yang minim empati disebut menjadi pemicu utama.
Beberapa pekerja muda mengungkapkan bahwa mereka merasa:
- Diharapkan produktif berlebihan sejak awal masuk kerja
- Minim bimbingan tapi dituntut serba bisa
- Lingkungan kerja penuh kompetisi tidak sehat
- Komunikasi satu arah dari atasan
“Baru tiga bulan kerja, tapi rasanya sudah kayak setahun burnout,” tulis salah satu pengguna X (Twitter) yang viral.
Gen Z Lebih Sadar Kesehatan Mental
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung bertahan demi stabilitas, Gen Z dikenal lebih berani memprioritaskan kesehatan mental.
Bagi mereka, pekerjaan bukan satu-satunya identitas hidup. Jika lingkungan kerja dianggap merusak mental, resign bukan kegagalan, tapi bentuk perlindungan diri.
Banyak dari mereka juga tumbuh di era keterbukaan soal:
- Burnout
- Anxiety
- Depresi kerja
- Work-life balance
Sehingga keputusan keluar dari kantor tidak lagi dianggap tabu.
Budaya Kerja Lama Dianggap Tak Relevan
Salah satu benturan terbesar terjadi antara budaya kerja lama dengan ekspektasi generasi baru.
Gen Z cenderung menginginkan:
- Jam kerja fleksibel
- Penilaian berbasis hasil, bukan jam duduk
- Komunikasi terbuka
- Lingkungan suportif
- Kesempatan berkembang
Sementara banyak kantor masih mempertahankan pola:
- Lembur sebagai standar loyalitas
- Senioritas kaku
- Minim feedback sehat
- Atasan otoriter
Ketika dua budaya ini bertemu, konflik pun muncul.
Bukan Anti Kerja Keras, Tapi Anti Disiksa
Stigma yang sering muncul adalah Gen Z disebut manja atau tidak tahan banting. Padahal banyak dari mereka justru bekerja keras—namun menolak sistem yang tidak manusiawi.
Mereka mau bekerja keras jika:
- Tujuan jelas
- Lingkungan sehat
- Apresiasi nyata
- Batas kerja dihargai
Yang ditolak adalah kerja keras tanpa arah, tanpa penghargaan, dan mengorbankan kesehatan mental.
Media Sosial Mempercepat Keputusan Resign
Peran media sosial juga besar dalam fenomena ini.
Gen Z setiap hari melihat:
- Kisah sukses freelance
- Remote worker keliling dunia
- Pebisnis muda sukses
- Konten “kerja tanpa kantor”
Hal ini membuka perspektif bahwa hidup tak harus terjebak di kantor toxic.
Resign pun tak lagi dianggap akhir dunia, melainkan awal mencari hidup yang lebih sehat.
Tapi Resign Terlalu Cepat Juga Berisiko
Meski banyak alasan logis, para pakar karier mengingatkan bahwa resign impulsif tetap membawa risiko:
- CV terkesan lompat-lompat
- Kehilangan kestabilan finansial
- Sulit naik level karier
- Tekanan ekonomi meningkat
Gen Z disarankan tetap memiliki perencanaan matang sebelum keluar dari pekerjaan, bukan sekadar karena emosi sesaat.
Perusahaan Mulai Beradaptasi
Kabar baiknya, banyak perusahaan kini mulai berubah:
- Program kesehatan mental
- Jam kerja fleksibel
- Sistem hybrid/remote
- Budaya feedback terbuka
- Fokus kesejahteraan karyawan
Perusahaan yang gagal beradaptasi perlahan mulai kehilangan talenta muda terbaik.
Dunia Kerja Sedang Berubah
Fenomena resign Gen Z sebenarnya bukan krisis, melainkan tanda perubahan zaman.
Generasi baru tidak lagi mau:
- Hidup hanya untuk kerja
- Menormalisasi burnout
- Takut keluar dari lingkungan buruk
Mereka menginginkan hidup seimbang, sehat, dan bermakna.
Jika perusahaan tidak berubah, gelombang resign kemungkinan akan terus terjadi.
Kesimpulan: Bukan Gen Z yang Lemah, Tapi Sistem yang Terlalu Keras
Gen Z bukan generasi pemalas. Mereka hanya generasi yang berani berkata cukup saat sistem kerja tak manusiawi.
Resign massal ini menjadi sinyal keras bahwa:
- Budaya kerja perlu berubah
- Kesehatan mental adalah prioritas
- Loyalitas bukan berarti menderita
Ke depan, dunia kerja akan semakin berpihak pada keseimbangan hidup—atau kehilangan generasi produktifnya.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login