Newestindonesia.co.id, Gianyar merupakan salah satu kota sekaligus kabupaten penting di Provinsi Bali yang dikenal sebagai pusat seni, budaya, dan sejarah kerajaan. Letaknya yang strategis di bagian tengah Pulau Bali menjadikan Gianyar memiliki peran besar dalam perjalanan peradaban Bali sejak masa kuno hingga era modern.
Asal-Usul Nama Gianyar
Nama Gianyar berasal dari kata “Geria Anyar” (Rumah Baru), yang merujuk pada pembangunan puri baru oleh Ida Dewa Manggis Sakti sekitar tahun 1770-1771 di bekas lokasi “Geria” (rumah pendeta), menandai lahirnya Kerajaan Gianyar yang berdaulat pada tanggal 19 April 1771, yang kini diperingati sebagai hari jadi kota tersebut.
Berdiri sebagai jantung seni dan budaya Bali, Gianyar memiliki rekam jejak sejarah yang panjang, mulai dari kisah pelarian ksatria hingga transformasinya menjadi kabupaten modern. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai sejarah Kerajaan Gianyar dan daftar tokoh-tokoh penting yang pernah bertahta.
Sejarah Kota Gianyar: Dari Hutan Bengkel Menjadi Pusat Peradaban
Sejarah Gianyar bermula dari dinamika politik di Kerajaan Gelgel pada abad ke-17. Tokoh sentralnya adalah I Dewa Manggis Kuning, putra dari raja Gelgel, Sri Dalem Segening. Karena terlibat dalam konflik asmara dan politik di lingkungan istana, ia harus mengungsi dan berkelana mencari tempat perlindungan.
Setelah sempat singgah di Badung dan menikah dengan putri I Gusti Pinatih, Dewa Manggis Kuning akhirnya menetap di sebuah wilayah hutan yang luas bernama Alas Bengkel (kini Desa Beng). Di sana, ia membangun permukiman yang lambat laun berkembang menjadi sebuah kekuatan politik baru.
Titik Balik 19 April 1771
Puncak berdirinya Kerajaan Gianyar secara resmi terjadi pada masa kekuasaan Ida Dewa Manggis Sakti (generasi keempat). Beliau memindahkan pusat pemerintahan dari Beng ke sebuah lokasi baru yang kini dikenal sebagai Puri Agung Gianyar pada tanggal 19 April 1771. Tanggal inilah yang hingga kini diperingati sebagai hari jadi Kota Gianyar.
Daftar Lengkap Tokoh-Tokoh Kerajaan Gianyar
Kerajaan Gianyar diperintah oleh dinasti (wangsa) Manggis. Berikut adalah urutan penguasa yang memimpin Gianyar dari masa rintisan hingga era kemerdekaan:
1. Era Rintisan (Kepala Wilayah)
- Ida Dewa Manggis I Kuning: Pendiri pemukiman di Alas Bengkel (Desa Beng).
- Ida Dewa Manggis II Pahang: Melanjutkan kepemimpinan di Desa Beng.
- Ida Dewa Manggis III Bengkel: Memperkuat pengaruh di wilayah sekitar Bengkel.
2. Era Kerajaan Berdaulat (Raja-Raja Gianyar)
- Ida Dewa Manggis IV (Dewa Manggis Sakti) (1771–1788): Pendiri resmi Kerajaan Gianyar dan pembangun Puri Agung Gianyar.
- Ida Dewa Manggis V (Dewa Manggis di Madya) (1788–1820): Masa perluasan wilayah.
- Ida Dewa Manggis VI (Dewa Manggis di Rangki) (1820–1847): Memimpin di tengah persaingan antar-kerajaan di Bali.
- Ida Dewa Manggis VII (Dewa Manggis di Satria) (1847–1884): Masa penuh gejolak; ia sempat ditawan oleh Kerajaan Klungkung saat peristiwa Rereg Gianyar.
3. Era Transisi & Kolonial (Status Stedehouder)
Setelah sempat jatuh ke tangan Klungkung, Gianyar bangkit kembali namun mulai bersentuhan dengan kekuasaan Belanda:
- Ida I Dewa Pahang (1891–1896): Memulihkan kembali kedaulatan Gianyar.
- Ida I Dewa Gede Raka (Dewa Manggis VIII) (1896–1912): Raja terakhir yang memerintah secara penuh sebelum Gianyar secara resmi berada di bawah protektorat Belanda.
- Ide Anak Agung Ngurah Agung (1913–1943): Memerintah dengan status Regent (Bupati) di bawah administrasi Hindia Belanda.
4. Era Kemerdekaan & Nasional
- Ide Anak Agung Gede Agung (1943–1946): Tokoh nasional, diplomat ulung, dan pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri RI.
- Ide Anak Agung Gede Oka (1946–1950): Penguasa terakhir sebelum sistem swapraja dilebur menjadi Kabupaten Gianyar di bawah NKRI.
Gianyar: Kota Kerajinan Dunia
Pasca kemerdekaan, status Gianyar berubah dari daerah swapraja menjadi Kabupaten berdasarkan UU No. 69 Tahun 1958. Kini, Gianyar tidak hanya dikenal karena sejarah kepahlawanannya melawan penjajah dalam peristiwa seperti Puputan Blahbatuh, tetapi juga sebagai World Craft City (Kota Kerajinan Dunia).
Setiap sudut kota, dari Ubud yang artistik hingga Sukawati yang legendaris, merupakan warisan dari strategi para leluhur Dinasti Manggis yang senantiasa menempatkan seni dan budaya sebagai pilar utama pemerintahan.
(Research & Editor: DAW)




You must be logged in to post a comment Login