Newestindonesia.co.id, Satuan Tugas (Satgas) Operasi Damai Cartenz 2026 berhasil menangkap empat anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB) di wilayah Yahukimo, Papua Pegunungan. Penangkapan itu dilakukan sebagai bagian dari upaya aparat keamanan untuk menindak pelaku kekerasan dan teror yang terjadi di sejumlah wilayah Papua.
Dua dari empat tersangka tersebut diduga kuat terlibat dalam penembakan pesawat perintis Smart Air PK-SNR di Bandara Koroway Batu, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan pada 11 Februari 2026. Insiden itu menewaskan pilot dan kopilot pesawat serta mengguncang sektor penerbangan di kawasan tersebut.
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Yusuf Sutejo, mengatakan bahwa dari sekitar 20 orang anggota KKB yang diduga terlibat dalam penyerangan Smart Air, pihaknya telah mengidentifikasi dua tersangka berinisial GW dan EH.
“Dua orang telah berhasil diidentifikasi dan saat ini masih dalam proses pendalaman lebih lanjut,” ungkap Yusuf, Senin (16/2/2026).
Selain itu, aparat keamanan juga terus menggali keterangan dari para penumpang yang selamat saat insiden penembakan tersebut. Menurut keterangan awal, kelompok pelaku membawa tiga hingga empat senjata api laras panjang, serta sejumlah senjata tajam seperti tombak, panah, dan parang saat melakukan serangan.
“Jenis dan asal senjata api masih dalam proses identifikasi,” tambah Yusuf.
Operasi penangkapan tersebut melibatkan personel dari Polri dan TNI, sekaligus memperkuat pengamanan di wilayah sekitar Boven Digoel untuk mencegah terjadinya aksi kekerasan susulan. Aparat juga masih melakukan pemburuan terhadap sisa pelaku yang belum ditangkap.
Latar Belakang Insiden Smart Air
Insiden penembakan terjadi ketika pesawat Smart Air PK-SNR sedang menjadwalkan penerbangan dari Tanah Merah menuju Bandara Koroway Batu. Begitu mendarat, pesawat diserang kelompok bersenjata yang kemudian menewaskan pilot dan kopilot meskipun para penumpang selamat.
Tragedi tersebut juga berdampak pada pelayanan penerbangan di Papua. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menutup sementara puluhan bandara dan layanan penerbangan di sejumlah wilayah Papua untuk memastikan keamanan operasional setelah insiden ini.
Selain penanganan hukum, insiden ini memicu reaksi dari berbagai pihak. Komnas HAM menyatakan kecaman keras atas tindakan kekerasan terhadap awak pesawat dan menegaskan bahwa serangan terhadap warga sipil merupakan pelanggaran hukum hak asasi manusia dan hukum humaniter internasional.
Sementara itu, para penumpang yang selamat dari tragedi telah menggalang bantuan sebagai bentuk solidaritas terhadap keluarga pilot dan kopilot yang gugur. Aksi penggalangan dana oleh mereka menunjukkan respons sosial di tengah situasi berduka dan traumatis.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login