Newestindonesia.co.id, Suasana Car Free Day (CFD) di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Minggu 8 Maret 2026 tampak berbeda dari biasanya. Jelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948, pawai ogoh-ogoh memeriahkan kawasan Jalan M.H. Thamrin hingga Bundaran HI dengan arak-arakan patung raksasa khas Bali yang menarik perhatian masyarakat.
Sejak pagi hari, ratusan peserta dan warga memadati kawasan tersebut untuk menyaksikan pawai budaya yang menjadi bagian dari rangkaian perayaan menyambut Tahun Baru Saka bagi umat Hindu. Patung ogoh-ogoh berukuran besar diarak secara bergantian oleh para peserta sambil diiringi musik tradisional Bali.
Arak-arakan ini berlangsung di tengah kegiatan Car Free Day yang rutin digelar setiap akhir pekan. Kehadiran ogoh-ogoh memberikan warna tersendiri bagi masyarakat yang sedang berolahraga atau beraktivitas di kawasan tersebut.
Pawai ogoh-ogoh biasanya menjadi salah satu tradisi yang dilakukan menjelang Hari Raya Nyepi. Tradisi ini berasal dari Bali dan kini juga digelar di berbagai daerah di Indonesia yang memiliki komunitas Hindu.
Dalam pawai tersebut, berbagai bentuk ogoh-ogoh ditampilkan. Sebagian besar menggambarkan sosok raksasa atau makhluk menyeramkan yang melambangkan sifat negatif atau kekuatan jahat.
Dimeriahkan Musik Tradisional dan Atraksi Budaya
Sepanjang rute pawai, para peserta tampil mengenakan pakaian adat Bali seperti kebaya dan udeng. Mereka mengarak ogoh-ogoh sambil menggoyangkan patung tersebut mengikuti irama musik baleganjur, menciptakan suasana meriah di tengah keramaian CFD.
Tak hanya kesenian Bali, kegiatan ini juga dipadukan dengan unsur budaya lokal Jakarta. Dalam beberapa kesempatan, kesenian Betawi seperti ondel-ondel turut memeriahkan arak-arakan budaya tersebut.
Ribuan warga yang sedang berolahraga maupun berkunjung ke kawasan Bundaran HI terlihat antusias menyaksikan pawai tersebut. Banyak di antara mereka yang berhenti sejenak untuk mengambil foto dan video sebagai kenang-kenangan.
Tradisi Menjelang Hari Raya Nyepi
Pawai ogoh-ogoh merupakan bagian dari rangkaian ritual menjelang Hari Raya Nyepi, yaitu perayaan Tahun Baru Saka dalam tradisi Hindu. Pada umumnya, ogoh-ogoh diarak pada malam menjelang Nyepi dalam prosesi yang disebut Pangrupukan.
Dalam filosofi Hindu Bali, ogoh-ogoh melambangkan Bhuta Kala atau kekuatan negatif di alam semesta. Setelah diarak, patung tersebut biasanya dibakar sebagai simbol pembersihan diri dan lingkungan dari unsur negatif.
Hari Raya Nyepi sendiri dikenal sebagai “Hari Raya Keheningan”, di mana umat Hindu menjalankan tapa brata penyepian dengan menahan diri dari berbagai aktivitas selama 24 jam.
Melalui pawai ogoh-ogoh di ruang publik seperti Bundaran HI, masyarakat tidak hanya disuguhkan pertunjukan seni budaya, tetapi juga diajak mengenal lebih dekat tradisi dan nilai spiritual yang terkandung dalam perayaan Nyepi.
Simbol Keberagaman Budaya di Ibu Kota
Pawai ogoh-ogoh di Jakarta juga menjadi simbol keberagaman budaya di Indonesia. Tradisi yang identik dengan Bali ini dapat dinikmati oleh masyarakat dari berbagai latar belakang, sekaligus menjadi sarana mempererat kebersamaan.
Selain menjadi bagian dari rangkaian perayaan keagamaan, kegiatan ini juga menghadirkan daya tarik wisata budaya bagi warga maupun wisatawan yang berada di ibu kota.
Dengan arak-arakan patung raksasa, iringan musik tradisional, serta antusiasme masyarakat, pawai ogoh-ogoh di Bundaran HI menjadi salah satu atraksi budaya yang menambah semarak suasana Jakarta menjelang Hari Raya Nyepi.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login