Newestindonesia.co.id, Pencarian dan evakuasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan akhirnya tuntas setelah tujuh hari operasi SAR digelar. Pada Jumat (23/1/2026), Tim SAR gabungan memastikan semua jenazah korban berhasil ditemukan dan dievakuasi dari lokasi kejadian.
Operasi yang melibatkan unsur Basarnas, TNI, Polri, relawan, serta masyarakat setempat itu mencapai puncaknya pada hari ketujuh pencarian, dengan temuan dua jenazah terakhir dilaporkan pagi tadi. Dengan demikian, seluruh korban dan benda penting yang menjadi sasaran operasi telah berhasil ditemukan di lokasi kejadian.
‘Sapu Bersih’ di Hari Ketujuh
Asisten Operasi Kodam XIV/Hasanuddin, Kolonel Inf Dody Priyo Hadi, menyatakan pencarian hari terakhir berlangsung di bawah sandi operasi “sapu bersih”.
“Alhamdulillah, di hari ketujuh ini kita bisa menemukan seluruhnya, baik benda penting yang ada di pesawat maupun seluruh korban. Hari ini kita gunakan sandi ‘sapu bersih’,” ujar Dody di Posko utama SAR gabungan dikutip melalui Liputan6.
Dody juga menyampaikan apresiasi kepada warga Desa Tompobulu dan Kecamatan Balocci yang berperan besar mendukung proses pencarian, baik secara langsung di lapangan maupun melalui dukungan logistik.
Identifikasi Korban
Dua jenazah telah berhasil diidentifikasi sejauh ini.
- Florencia Lolita Wibisono, seorang pramugari berusia 33 tahun asal Jakarta Timur, ditemukan di lereng Gunung Bulusaraung oleh Tim SAR pada 19 Januari 2026.
- Deden Maulana, pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), ditemukan pada 18 Januari 2026 dan telah diserahkan ke pihak keluarga.
Proses identifikasi terhadap jenazah lainnya masih berlanjut melalui tim Disaster Victim Identification (DVI).
Awal Tragedi dan Upaya SAR
Pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT, yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT) dalam misi pengawasan udara atas permintaan Kementerian Kelautan dan Perikanan, hilang kontak pada 17 Januari 2026 dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Makassar.
Kontak terakhir dengan pesawat terjadi saat memasuki wilayah Sulawesi Selatan, setelah radar menunjukkan kehilangan sinyal saat pendekatan ke Sultan Hasanuddin International Airport. Tim SAR kemudian menemukan puing-puing pesawat di lereng Gunung Bulusaraung, medan yang terjal dan tertutup cuaca buruk menjadi kendala berat dalam operasi pencarian.
Tantangan Medan dan Cuaca
Sejak awal pencarian, medan yang terjal di kawasan pegunungan Sulawesi Selatan serta kondisi cuaca ekstrem, termasuk angin kencang dan kabut tebal, menjadi tantangan bagi tim SAR dalam menemukan dan mengevakuasi jenazah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika sempat mempertimbangkan modifikasi cuaca untuk mendukung operasi SAR.
Situasi Akhir Operasi
Dengan ditemukannya jenazah korban terakhir, Basarnas menyatakan bahwa seluruh target operasi pencarian dan evakuasi telah berhasil dicapai. Tidak ada korban yang tertinggal di lokasi kejadian.
Proses penyelidikan terhadap penyebab kecelakaan akan terus dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), termasuk analisis terhadap data dari flight data recorder dan cockpit voice recorder yang berhasil ditemukan tim SAR.
(DAW)




You must be logged in to post a comment Login