Newestindonesia.co.id, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyatakan bahwa pengelolaan kekayaan alam Indonesia selama puluhan tahun belum tertib dan teratur, sehingga menjadi tantangan besar bagi pembangunan nasional.
Pernyataan ini disampaikan Prabowo saat meresmikan program nasional 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada Senin (12/1/2026).
“Tidak gampang (mengelolanya), puluhan tahun kekayaan kita kurang tertib dikelola. Tidak mudah…” ujar Presiden Prabowo dalam sambutannya.
Dugaan Ejekan dan Sinisme Disusupi Kekuatan Asing
Dalam kesempatan yang sama, Presiden juga menyinggung adanya segelintir pihak yang menyebarkan ejekan dan pandangan pesimis terhadap pemerintahannya.
Menurut Prabowo, pihak-pihak tersebut memiliki akses terhadap sarana opini publik dan diduga kuat memiliki motivasi di luar kepentingan nasional.
“…banyak orang mengejek saya, saya tahu. Sebetulnya tidak banyak, segelintir orang saja. Hanya dia mungkin punya uang, dia punya sarana, dia bisa menyebarkan sinisme, pesimisme, dan kemungkinan besar mereka dibayar oleh kekuatan-kekuatan asing. Itu keyakinan saya, kepercayaan saya.”
Pernyataan ini mengundang perhatian karena Presiden secara terbuka menilai bahwa kritik yang disampaikan oleh sebagian pihak bukan semata-mata ekspresi domestik biasa, melainkan kemungkinan bagian dari narasi yang didukung kekuatan asing untuk menciptakan pesimisme di tengah masyarakat.
Pentingnya Narasi Positif dalam Pembangunan Nasional
Presiden Prabowo menekankan bahwa bangsa Indonesia perlu melihat capaian nyata pemerintah dan tidak terjebak dalam narasi negatif yang berlebihan. Ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama membangun bangsa dengan semangat optimisme, bukan sinisme.
Hal ini disebutnya penting terutama dalam konteks tantangan global dan dinamika ekonomi dunia, di mana kekayaan alam Indonesia harus dimanfaatkan secara baik demi kemajuan dan kesejahteraan rakyat.
Kesimpulan
Pernyataan Presiden Prabowo menyentuh dua isu besar:
- Pengelolaan kekayaan alam yang menurutnya masih perlu perbaikan struktural setelah puluhan tahun berjalan.
- Kritik publik yang bukan sekadar kritik, tetapi diduga disusupi kekuatan asing lewat pola ejekan dan penyebaran pesimisme.
Kedua isu ini menjadi sorotan penting dalam narasi kebijakan pemerintahan saat ini dan dapat memengaruhi diskursus publik serta persepsi masyarakat terhadap agenda pembangunan nasional ke depan.
Editor: DAW




You must be logged in to post a comment Login