Newestindonesia.co.id, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi satu kasus kematian akibat infeksi virus Nipah yang terjadi di Bangladesh pada akhir Januari lalu, meningkatkan perhatian terhadap penyakit zoonotik yang dikenal memiliki angka kematian tinggi.
Dilansir melalui halaman resmi WHO, Kematian tersebut dilaporkan oleh International Health Regulations National Focal Point (IHR-NFP) Bangladesh kepada WHO pada 3 Februari 2026 setelah hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan positif infeksi virus Nipah.
Pasien adalah seorang perempuan berusia antara 40 hingga 50 tahun dari distrik Naogaon di Divisi Rajshahi, wilayah barat laut Bangladesh. Menurut WHO, pasien mulai mengalami gejala pada 21 Januari, termasuk demam dan sakit kepala sebelum kondisi berkembang menjadi hipersalivasi (air liur berlebihan), disorientasi, dan kejang.
Ia kemudian dirawat di rumah sakit pada 28 Januari dan dinyatakan meninggal dunia pada hari yang sama. Hasil laboratorium yang keluar sehari setelah kematian memastikan pasien positif terinfeksi virus Nipah.
Kementerian Kesehatan Bangladesh, bersama dengan pihak berwenang kesehatan setempat, langsung melakukan pemantauan dan pelacakan kontak. Sebanyak 35 orang yang sempat melakukan kontak dengan pasien telah diperiksa, dan semua dinyatakan negatif hingga kini. Tidak ada kasus tambahan yang tercatat setelah peristiwa ini.
Apa Itu Virus Nipah?
Virus Nipah (NiV) adalah penyakit zoonotik yang berarti menyebar dari hewan ke manusia. Virus ini diketahui bersumber dari kelelawar buah (fruit bats / flying foxes) dan dapat menular ke manusia melalui konsumsi produk yang terkontaminasi, seperti getah atau air nira dari pohon kurma yang terkontaminasi oleh kelelawar.
Infeksi virus Nipah dapat menyebabkan gejala yang bervariasi, mulai dari demam ringan hingga penyakit parah seperti ensefalitis (radang otak) dan gangguan pernapasan. Tingkat kematian akibat infeksi ini cukup tinggi — dalam berbagai kejadian sebelumnya, fatalitas sering mencapai antara 40% hingga 75% dari kasus yang terkonfirmasi.
Sejauh ini, belum tersedia obat atau vaksin yang disetujui secara khusus untuk mengatasi infeksi virus Nipah. Perawatan yang diberikan bersifat suportif untuk membantu sistem imun pasien menghadapi infeksi.
Risiko Penyebaran dan Tindakan WHO
WHO menilai risiko penyebaran lintas negara tetap rendah berdasarkan situasi saat ini, dan organisasi tersebut tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan atau perdagangan sebagai respons terhadap kasus ini.
Bangladesh sendiri secara rutin melaporkan kasus Nipah hampir setiap tahun, biasanya terjadi pada musim desember hingga april, periode ketika konsumsi nira kurma sering meningkat dan korelasi dengan kegiatan kelelawar di habitatnya juga tinggi.
Meskipun demikian, negara-negara tetangga di Asia, termasuk Malaysia, Thailand, dan Pakistan, telah meningkatkan pemeriksaan suhu tubuh di bandara setelah kasus virus Nipah dilaporkan di India bagian barat (West Bengal), di mana beberapa kasus juga baru-baru ini terkonfirmasi.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login