Newestindonesia.co.id, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer telah tiba di Beijing pada Rabu malam (28/1) dalam kunjungan resmi pertama pemimpin Inggris ke China sejak delapan tahun terakhir, dan dijadwalkan bertemu langsung dengan Presiden China Xi Jinping dalam agenda diplomatik penting.
Kedatangan Starmer menandai langkah strategis pemerintahannya untuk memperkuat hubungan bilateral kedua negara, yang sempat mengalami ketegangan selama beberapa tahun terakhir akibat isu geopolitik, keamanan, dan hak asasi manusia.
“Kunjungan ini akan menjadi perjalanan yang sangat penting bagi kami,” ujar Starmer kepada wartawan, menekankan bahwa Inggris ingin melibatkan China secara pragmatis tanpa mengorbankan keamanan nasional, Seperti dikutip melalui AFP.
Agenda Pertemuan dan Fokus Pembicaraan
Starmer dijadwalkan melakukan lunch meeting dengan Presiden Xi Jinping pada Kamis (29/1) dan kemudian bertemu dengan Perdana Menteri China, Li Qiang. Pembicaraan diperkirakan meliputi sejumlah isu utama:
- Memperluas kerja sama perdagangan dan investasi.
- Menangani masalah keamanan nasional dan risiko spionase.
- Membahas hak asasi manusia, termasuk kasus aktivis Hong Kong.
China menyambut kunjungan ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan saling kepercayaan politik, demikian dikatakan juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun saat konferensi pers.
Pendekatan Inggris: Seimbang dan Realistis
Dalam perjalanan tersebut, Starmer menegaskan bahwa Inggris tidak akan dipaksa memilih antara China dan Amerika Serikat, dua kekuatan global dengan pengaruh besar dalam ekonomi dan keamanan dunia. Pernyataan ini disampaikannya dalam wawancara menjelang keberangkatan, menunjukkan sikap pragmatis London terhadap hubungan internasional.
Starmer juga menambahkan bahwa meskipun fokus pada peluang ekonomi, Inggris tetap memperhatikan ancaman terhadap keamanan nasional, termasuk risiko spionase dan persaingan teknologi.
Kritik dan Tantangan di Dalam Negeri
Pendekatan Starmer terhadap China menuai kritik dari sejumlah pihak di dalam negeri Inggris. Beberapa kritikus menilai keterbukaan terhadap Beijing dapat mengaburkan tekanan terhadap pelanggaran hak asasi dan membahayakan keamanan jangka panjang.
Isu-isu yang menjadi sorotan termasuk:
- Penahanan tokoh pro-demokrasi Hong Kong Jimmy Lai.
- Dugaan pelanggaran HAM terhadap minoritas Uighur.
- Kekhawatiran spionase dan pengaruh diplomatik yang kuat.
Meski demikian, Starmer bertekad untuk membahas isu-isu sulit itu secara terbuka dalam dialog dengan pimpinan China, sembari mencoba meraih keuntungan ekonomi bagi sektor bisnis Inggris.
Signifikansi Kunjungan di Tengah Dinamika Global
Kunjungan ini terjadi di tengah perubahan cepat dalam lanskap geopolitik global. Beberapa negara Barat, termasuk Kanada, juga telah meningkatkan kontak mereka dengan China baru-baru ini, sementara hubungan transatlantik dipengaruhi oleh kebijakan yang lebih proteksionis dari pemerintahan Amerika Serikat.
Untuk Inggris, kunjungan ini bukan hanya soal hubungan bilateral dengan China, tetapi juga tentang keseimbangan strategi antara besar kekuatan dunia dan kepentingan nasional di era multipolar.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti Sekarang



You must be logged in to post a comment Login