Newestindonesia.co.id, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer secara terbuka meminta maaf kepada para korban Jeffrey Epstein setelah mengakui bahwa ia mengetahui hubungan mantan Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat Peter Mandelson dengan Epstein sebelum menunjuknya sebagai duta besar. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato publik di St Leonards-on-Sea, Inggris, Kamis (5/2/2026), yang memicu kritik tajam dari oposisi dan anggota partai sendiri.
Starmer berkata bahwa Mandelson “telah menggambarkan Epstein seolah-olah dia hampir tidak mengenalnya,” dan bahwa ia menyesal telah mempercayai klaim tersebut saat pengangkatan itu dilakukan.
“Saya minta maaf… atas apa yang telah dilakukan kepada Anda, minta maaf karena begitu banyak orang berkuasa telah mengecewakan Anda,” ujar Starmer seperti dikutip melalui Associated Press.
Latar Belakang Skandal
Peter Mandelson, politikus senior dari Partai Buruh yang telah menjabat di berbagai posisi penting, termasuk sebagai duta besar Inggris di Washington D.C., kini menjadi sorotan tajam setelah terungkap adanya hubungan yang lebih dekat dengan Epstein daripada yang tadinya dilaporkan kepada Downing Street saat proses vetting.
Dokumen baru yang dirilis, termasuk email dan catatan keuangan, menunjukkan bahwa hubungan tersebut melibatkan pembayaran dan kontak yang lebih intens daripada klaim publik Mandelson sebelumnya.
Karena tekanan yang terus meningkat, Starmer mencopot Mandelson dari jabatan duta besar pada September 2025 saat dokumen penting pertama bocor. Penunjukan tersebut sendiri berasal dari akhir 2024.
Tuduhan dan Investigasi
Selain digulingkan dari posisinya sebagai duta besar, Mandelson menghadapi tekanan publik dan politik yang besar. Ia telah diminta untuk mengundurkan diri dari House of Lords, majelis tinggi parlemen Inggris, dan kini menjadi subjek penyelidikan kriminal oleh kepolisian Metropolitan terkait kemungkinan pelanggaran dalam jabatan publiknya yang berkaitan dengan hubungan tersebut.
Dokumen yang bocor juga menunjukkan bahwa pada tahun 2003–2004, Epstein membayar lebih dari US$75.000 kepada rekening yang terkait dengan Mandelson atau suaminya, serta komunikasi yang menunjukkan upaya Mandelson membantu Epstein setelah kasus hukum pertama Epstein pada 2008.
Dampak Politik dalam Negeri
Skandal ini telah mengguncang pemerintahan Starmer. Para anggota parlemen dari partainya sendiri menyatakan frustrasi dan kekecewaan, bahkan beberapa menyerukan pertanggungjawaban lebih jauh atas keputusan penunjukan tersebut. Kritik tajam meluas ke pihak oposisi, yang menilai penanganan pemerintah terlalu lemah dan menunjukkan “kekurangan kompas moral”.
Dalam sidang parlemen terbaru, Starmer juga mengakui bahwa proses vetting tidak memadai karena banyak informasi penting yang tidak diketahui publik saat itu. Ia berjanji akan merilis lebih banyak dokumen untuk menjelaskan kronologi keputusan tersebut dan menanggapi kekhawatiran tentang implikasi keselamatan nasional.
Konteks Lebih Luas: Jejak Epstein di Inggris
Kasus ini mengingatkan publik Inggris pada keterkaitan yang lebih luas antara elit politik dan figur yang kontroversial. Hubungan Epstein sebelumnya telah membawa kejatuhan bagi tokoh lain, termasuk anggota keluarga kerajaan Inggris. Kehadiran nama-nama besar dalam arsip Epstein menimbulkan pertanyaan tentang standar etika dalam penunjukan pejabat tinggi negara.
Permintaan maaf PM Starmer kepada para korban Epstein bukan hanya soal satu keputusan politik, tetapi juga cerminan naiknya tekanan untuk transparansi dan akuntabilitas di pemerintahan Inggris. Dengan penyelidikan yang masih berjalan dan tekanan politik yang terus meningkat, skandal ini diprediksi akan tetap menjadi isu besar sepanjang 2026 — bahkan berpotensi memengaruhi masa depan politik Starmer dan Partai Buruh.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login