Newestindonesia.co.id, Serangan udara Israel yang semakin meluas tidak hanya menyasar target militer, tetapi juga infrastruktur sipil yang terkait dengan kelompok Hezbollah di Lebanon. Salah satu serangan paling mematikan terjadi pada 13 Maret 2026, ketika sebuah pusat kesehatan di selatan Lebanon dihantam, menewaskan sedikitnya 12 tenaga medis.
Pusat kesehatan tersebut dikelola oleh organisasi kesehatan yang berafiliasi dengan Hezbollah. Menurut laporan Associated Press, total korban dari kalangan tenaga medis dalam dua pekan terakhir mencapai sedikitnya 24 orang.
Serangan ini menjadi bagian dari strategi Israel untuk melemahkan Hezbollah secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi militer tetapi juga jaringan sosial dan sipil yang menopang kelompok tersebut.
Target Sipil Jadi Sorotan
Dilansir melalui Associated Press, Selain fasilitas kesehatan, Israel juga dilaporkan menyerang berbagai institusi sipil lain yang memiliki keterkaitan dengan Hezbollah, seperti lembaga keuangan, media, hingga jaringan distribusi bahan bakar dan toko ritel.
Pihak Israel mengklaim bahwa fasilitas-fasilitas tersebut digunakan untuk kepentingan militer. Namun tuduhan ini dibantah oleh Kementerian Kesehatan Lebanon.
“Fasilitas kesehatan seharusnya dilindungi dalam konflik apa pun,” ujar pejabat kesehatan Lebanon, menegaskan bahwa serangan terhadap tenaga medis melanggar hukum internasional.
Korban Terus Bertambah
Sejak konflik kembali memanas awal Maret 2026, jumlah korban jiwa di Lebanon telah melampaui 1.000 orang, dengan lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi.
Data dari organisasi pemantau konflik menunjukkan sebagian besar korban merupakan warga sipil, menandakan meningkatnya dampak kemanusiaan dari eskalasi konflik ini.
Tenaga medis di lapangan juga melaporkan tekanan luar biasa akibat serangan yang terus berulang.
“Kami tetap bekerja meski risiko tinggi, karena masyarakat membutuhkan kami,” kata salah satu tenaga medis di wilayah selatan Lebanon.
Konflik Meluas ke Regional
Konflik ini tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari ketegangan regional yang lebih luas yang melibatkan Iran dan sekutunya, termasuk Hezbollah. Setelah serangan terhadap Iran dan kematian pemimpin tertinggi negara tersebut, Hezbollah meningkatkan serangan ke wilayah Israel, yang kemudian dibalas dengan operasi militer besar-besaran.
Hingga kini, Hezbollah menyatakan akan terus melawan dan menyebut konflik ini sebagai “pertempuran eksistensial”.
Potensi Pelanggaran Hukum Internasional
Sejumlah organisasi HAM internasional mulai menyoroti serangan terhadap fasilitas sipil dan tenaga medis sebagai potensi kejahatan perang.
Di sisi lain, Israel tetap bersikukuh bahwa target yang diserang memiliki keterkaitan dengan aktivitas militer Hezbollah.
Situasi ini membuat peluang gencatan senjata dalam waktu dekat dinilai masih sangat kecil.
Analisis Singkat
Konflik Israel–Hezbollah kini memasuki fase baru:
Risiko eskalasi regional semakin tinggi karena keterlibatan Iran
Tidak hanya fokus militer, tetapi juga “perang terhadap jaringan sipil”
Dampaknya: krisis kemanusiaan besar dan potensi pelanggaran hukum internasional
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login