Newestindonesia.co.id, Eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah mencapai titik baru setelah Pemerintah Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS) dan Israel. Teheran mengancam akan memasang ranjau laut di seluruh jalur Teluk Persia jika pantai maupun pulau-pulau strategis miliknya menjadi sasaran serangan militer.
Ancaman ini merupakan respons langsung terhadap meningkatnya tekanan militer dari Washington dan sekutunya di kawasan tersebut. Jika direalisasikan, langkah ini diprediksi bakal melumpuhkan jalur perdagangan energi global yang sangat vital.
Pernyataan Resmi Dewan Pertahanan Nasional Iran
Dalam pernyataan resmi yang dirilis melalui kantor berita Fars hari ini (23/3), Dewan Pertahanan Nasional Iran menegaskan bahwa setiap upaya “musuh” untuk menargetkan kedaulatan wilayahnya akan dijawab dengan tindakan ekstrem di perairan.
“Setiap upaya oleh musuh untuk menargetkan pantai atau pulau-pulau Iran akan menyebabkan pemasangan ranjau di jalur akses dan jalur komunikasi di seluruh Teluk,” bunyi pernyataan resmi Dewan Pertahanan Nasional Iran, Senin (23/3/2026).
Pihak Teheran merinci bahwa operasi tersebut akan melibatkan berbagai jenis teknologi ranjau laut.
“Langkah-langkah tersebut akan mencakup berbagai jenis ranjau laut, termasuk ranjau terapung yang dapat diluncurkan secara cepat dari garis pantai,” tambah pernyataan tersebut.
Dampak pada Jalur Logistik Dunia
Iran memperingatkan bahwa langkah pertahanan ini secara efektif akan mengubah seluruh Teluk Persia menjadi zona tertutup, mirip dengan kondisi Selat Hormuz yang saat ini sudah mengalami gangguan signifikan.
“Dalam skenario seperti itu, seluruh Teluk Persia akan menghadapi kondisi yang mirip dengan Selat Hormuz untuk jangka waktu yang lama. Tanggung jawab atas dampak buruk yang ditimbulkan sepenuhnya berada di tangan pihak yang memulai serangan,” tegas otoritas Iran.
Lebih lanjut, Iran memberikan syarat ketat bagi kapal-kapal internasional yang ingin melintas. Dewan Pertahanan Nasional menyatakan bahwa satu-satunya cara bagi “negara-negara non-agresif” untuk melintasi jalur tersebut dengan aman adalah melalui koordinasi langsung dengan pihak Iran.
Krisis Energi Global Membayang
Ancaman ini muncul di tengah kondisi Selat Hormuz yang sudah terganggu sejak awal Maret. Jalur air strategis ini merupakan rute utama bagi sekitar 20 juta barel minyak mentah per hari, atau setara dengan seperlima konsumsi minyak dunia.
Penutupan jalur ini dipastikan akan memicu lonjakan harga minyak global secara drastis serta meningkatkan biaya pengiriman logistik internasional secara signifikan. Sejauh ini, pihak Amerika Serikat maupun Israel belum memberikan komentar resmi terkait ancaman terbaru dari Teheran tersebut.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login