Newestindonesia.co.id, Israel mengumumkan pada hari Jumat (30/1) bahwa mereka akan membuka kembali perlintasan perbatasan Rafah antara Jalur Gaza dan Mesir mulai Minggu ini, setelah hampir dua tahun ditutup — sebuah langkah penting dalam rencana gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat…
Dilansir melalui Associated Press, COGAT — badan militer Israel yang bertugas mengoordinasikan bantuan dan pergerakan di Gaza — menyatakan bahwa pembukaan kembali itu akan memungkinkan “pergerakan terbatas hanya untuk pejalan kaki” mulai hari Minggu, dengan izin khusus dari Israel dan Mesir, serta pengawasan patroli perbatasan dari Uni Eropa.
Detail Pembukaan: Siapa yang Diizinkan Lewat?
Menurut pernyataan resmi COGAT:
- Awalnya hanya pergerakan orang yang diizinkan, tidak termasuk barang atau lalu lintas komersial.
- Orang-orang yang diizinkan memasuki atau meninggalkan Gaza harus mendapat persetujuan keamanan terlebih dahulu dari otoritas Israel.
- Pemeriksaan dilakukan bersama pihak Mesir dan pemantau Uni Eropa.
- Prioritas kemungkinan diberikan kepada pasien medis, warga yang mengungsi, atau mereka yang pernah terdaftar keluar dari Gaza selama perang.
Pembukaan ini menjadi momen penting bagi ribuan warga Gaza yang berharap bisa kembali ke kampung halaman, bertemu keluarga, atau mengakses layanan kesehatan yang sangat dibutuhkan setelah dua tahun konflik menghancurkan infrastruktur dan layanan sipil.
Konteks Perang dan Perundingan
Perlintasan Rafah adalah satu-satunya pintu darat Gaza yang tidak dikendalikan oleh Israel sebelum perang. Penutupan total terjadi setelah Israel mengambil alih kendali penuh atas perlintasan itu pada Mei 2024 dalam operasi militer besar di selatan Gaza, yang juga merupakan bagian dari respons Israel terhadap serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Pembukaan kembali terjadi di tengah pelaksanaan fase kedua dari rencana gencatan senjata yang diprakarsai Amerika Serikat. Fase ini mencakup:
- Pembukaan perbatasan secara bertahap.
- Demiliterisasi kawasan.
- Pembentukan struktur baru untuk koordinasi rekonstruksi Gaza.
Langkah ini datang tak lama setelah Israel mengumumkan telah mengembalikan jenazah sandera terakhir yang tewas di Gaza, menandai selesainya fase pertama dari kesepakatan gencatan senjata.
Respons dan Tantangan
Meski pembukaan ini disambut sebagai perkembangan positif, ada sejumlah kekhawatiran dan tantangan:
- Israel tetap mempertahankan kontrol ketat terhadap siapa saja yang bisa masuk atau keluar dari Gaza, termasuk melalui pemeriksaan data dan sistem pengenalan wajah di pos kontrol.
- Pembukaan secara penuh dan tanpa batas masih jauh dari kenyataan, karena proses penyaringan yang ketat serta persyaratan keamanan dari pihak Israel membuat banyak warga harus menunggu lama.
- Organisasi bantuan kemanusiaan dan PBB terus menyerukan agar perlintasan ini dibuka juga untuk masuknya bantuan medis, pangan, dan barang-barang penting lainnya, bukan hanya pergerakan orang.
Sejak penutupan Rafah, sebagian besar bantuan masuk melalui perlintasan lain yang dikendalikan Israel, dengan jumlah yang dibatasi — sesuatu yang dikecam oleh beberapa kelompok kemanusiaan sebagai hambatan terhadap upaya bantuan yang lebih luas.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login