Kenali Down Syndrome Sejak Dini, Berikut Gejala Dan Faktor Risikonya

Adorable toddler boy with Down Syndrome smiles while playing outdoors

Ilustrasi seorang anak down syndrome. Foto: iStock/Courtney Hale

Harga Emas Hari Ini
Advertisement

Newestindonesia.co.id, Down Syndrome atau sindrom Down adalah kelainan genetik yang terjadi akibat adanya salinan tambahan pada kromosom nomor 21. Karena memiliki tiga salinan kromosom 21, kondisi ini juga dikenal sebagai trisomi 21. Normalnya, manusia memiliki 46 kromosom atau 23 pasang kromosom, namun pada penderita Down Syndrome jumlah kromosom menjadi 47.

Kelainan genetik ini menyebabkan gangguan perkembangan fisik dan intelektual dengan tingkat keparahan yang berbeda pada setiap individu. Meski tidak dapat disembuhkan, berbagai terapi dan dukungan yang tepat sejak dini memungkinkan penyandang Down Syndrome tumbuh, belajar, bekerja, serta menjalani kehidupan yang produktif dan bahagia.

Down Syndrome merupakan salah satu kelainan genetik yang paling umum ditemukan di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan ribuan bayi lahir dengan kondisi ini setiap tahun.

Apa Penyebab Down Syndrome?

Penyebab utama Down Syndrome adalah terjadinya kesalahan pembelahan sel yang menyebabkan kromosom nomor 21 berjumlah tiga. Kelebihan kromosom tersebut memengaruhi perkembangan tubuh dan fungsi otak sehingga muncul berbagai karakteristik khas.

Sebagian besar kasus terjadi secara acak dan bukan akibat kesalahan orang tua selama kehamilan.

Faktor Risiko Down Syndrome

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko meliputi:

  1. Usia ibu hamil di atas 35 tahun.
  2. Usia ayah lebih dari 40 tahun.
  3. Memiliki riwayat keluarga dengan kelainan kromosom.
  4. Orang tua yang membawa translokasi kromosom tertentu.

Walaupun demikian, Down Syndrome dapat terjadi pada kehamilan di segala usia.

Jenis-Jenis Down Syndrome

1. Trisomi 21

Jenis ini merupakan yang paling umum dan mencakup sekitar 95 persen kasus. Semua sel tubuh memiliki salinan ekstra kromosom 21.

2. Mosaic Down Syndrome

Pada tipe ini, hanya sebagian sel tubuh yang memiliki kromosom tambahan. Gejalanya cenderung lebih ringan dibandingkan trisomi 21 penuh.

Baca juga:  Feses Berwarna Hitam Tanda Apa? Kenali Penyebab, Gejala, Dan Kapan Harus Ke Dokter

3. Translokasi Down Syndrome

Jenis ini terjadi ketika sebagian kromosom 21 menempel pada kromosom lain. Tipe ini relatif jarang dan dalam beberapa kasus dapat diturunkan dari orang tua.

Ciri-Ciri Fisik Down Syndrome

Anak dengan Down Syndrome umumnya memiliki karakteristik fisik tertentu, antara lain:

  • Bentuk wajah cenderung datar.
  • Mata miring ke atas.
  • Leher pendek.
  • Telinga kecil.
  • Lidah tampak menonjol.
  • Otot tubuh lebih lemah.
  • Jari-jari tangan pendek.
  • Telapak tangan lebar dengan satu garis melintang.
  • Tinggi badan lebih pendek dibandingkan anak seusianya.

Tidak semua penderita memiliki ciri yang sama. Tingkat keparahan dapat berbeda pada setiap individu.

Gejala Down Syndrome

Selain karakteristik fisik, penderita Down Syndrome juga dapat mengalami:

Keterlambatan Perkembangan

Anak biasanya lebih lambat dalam:

  • Duduk.
  • Merangkak.
  • Berjalan.
  • Berbicara.
  • Membaca.
  • Menulis.

Gangguan Kognitif

Sebagian besar penderita mengalami keterbatasan intelektual ringan hingga sedang. Namun banyak yang mampu bersekolah, bekerja, dan hidup mandiri dengan dukungan yang memadai.

Gangguan Komunikasi

Perkembangan bahasa dan kemampuan berbicara sering kali lebih lambat dibandingkan anak seusianya.

Apakah Down Syndrome Bisa Dideteksi Sejak Dalam Kandungan?

Ya. Saat ini berbagai pemeriksaan prenatal dapat membantu mendeteksi kemungkinan Down Syndrome sejak masa kehamilan.

Beberapa metode yang digunakan meliputi:

USG Kehamilan

Pemeriksaan ini dapat melihat tanda-tanda tertentu yang mengarah pada risiko Down Syndrome.

Tes Darah Ibu Hamil

Tes dilakukan untuk mengukur kadar hormon dan protein tertentu.

NIPT (Non-Invasive Prenatal Test)

NIPT merupakan pemeriksaan modern yang dilakukan melalui sampel darah ibu dan memiliki tingkat akurasi yang tinggi. Pemeriksaan ini dapat dilakukan mulai usia kehamilan 10 minggu.

Amniosentesis

Pemeriksaan cairan ketuban dilakukan untuk memastikan diagnosis ketika hasil skrining menunjukkan risiko tinggi.

Baca juga:  Tips Bayi Tabung Yang Aman, Apakah Bisa Untuk Umur 40 Ke Atas?

Komplikasi yang Bisa Menyertai Down Syndrome

Down Syndrome tidak hanya memengaruhi perkembangan otak, tetapi juga dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan lainnya.

Penyakit Jantung Bawaan

Sekitar setengah penderita Down Syndrome memiliki kelainan jantung sejak lahir.

Gangguan Pencernaan

Beberapa bayi mengalami penyumbatan pada saluran pencernaan yang memerlukan tindakan operasi.

Gangguan Pendengaran

Infeksi telinga yang berulang dapat menyebabkan penurunan kemampuan mendengar.

Gangguan Penglihatan

Penderita memiliki risiko lebih tinggi mengalami rabun, katarak, dan gangguan mata lainnya.

Gangguan Tiroid

Masalah hormon tiroid lebih sering ditemukan pada penyandang Down Syndrome.

Obesitas

Metabolisme tubuh yang lebih lambat membuat mereka rentan mengalami kelebihan berat badan.

Leukemia

Risiko leukemia pada anak dengan Down Syndrome sedikit lebih tinggi dibandingkan populasi umum.

Alzheimer Dini

Ketika memasuki usia dewasa, penderita memiliki risiko lebih tinggi mengalami demensia atau Alzheimer pada usia yang lebih muda.

Apakah Down Syndrome Sama dengan Autisme?

Tidak.

Down Syndrome adalah kelainan genetik akibat kelebihan kromosom 21, sedangkan autisme merupakan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi interaksi sosial dan komunikasi.

Meski berbeda, seseorang dapat mengalami Down Syndrome dan autisme secara bersamaan.

Apakah Down Syndrome Menurun?

Sebagian besar kasus Down Syndrome tidak diturunkan dari orang tua. Namun, tipe translokasi memiliki kemungkinan diwariskan apabila salah satu orang tua merupakan pembawa perubahan kromosom tertentu.

Karena itu, konsultasi genetik sangat dianjurkan bagi pasangan yang memiliki riwayat keluarga dengan kondisi tersebut.

Apakah Down Syndrome Bisa Dicegah?

Tidak ada cara yang benar-benar dapat mencegah Down Syndrome karena kondisi ini terjadi akibat perubahan kromosom yang berlangsung secara acak. Namun, pemeriksaan kehamilan rutin dan skrining prenatal dapat membantu mendeteksi kondisi tersebut lebih awal.

Baca juga:  Kemenkes: 62 Kasus ‘Super Flu’ Subclade K Terdeteksi Di Indonesia, Penyebaran Di 8 Provinsi

Penanganan Down Syndrome

Meskipun tidak dapat disembuhkan, berbagai terapi mampu meningkatkan kualitas hidup penderita.

Fisioterapi

Membantu memperkuat otot dan meningkatkan kemampuan motorik.

Terapi Wicara

Membantu meningkatkan kemampuan berbicara dan komunikasi.

Terapi Okupasi

Melatih kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.

Pendidikan Khusus

Mendukung perkembangan akademik sesuai kemampuan masing-masing anak.

Pemeriksaan Kesehatan Berkala

Kontrol rutin penting untuk mendeteksi berbagai komplikasi sedini mungkin.

Dukungan Keluarga Sangat Penting

Peran keluarga menjadi faktor utama dalam tumbuh kembang anak dengan Down Syndrome. Dengan kasih sayang, pendidikan yang tepat, serta dukungan lingkungan yang inklusif, banyak penyandang Down Syndrome yang mampu:

  • Menempuh pendidikan.
  • Memiliki pekerjaan.
  • Berprestasi di bidang olahraga maupun seni.
  • Menjalani kehidupan yang mandiri.
  • Berkontribusi di masyarakat.

Pandangan masyarakat terhadap Down Syndrome pun terus berubah. Saat ini semakin banyak individu dengan Down Syndrome yang menunjukkan bahwa mereka mampu meraih berbagai pencapaian dan hidup secara bermakna.

Kesimpulan

Down Syndrome adalah kelainan genetik yang terjadi akibat adanya kromosom ekstra nomor 21. Kondisi ini menyebabkan perbedaan perkembangan fisik dan intelektual, tetapi bukan merupakan penyakit menular.

Dengan diagnosis dini, terapi yang tepat, serta dukungan keluarga dan lingkungan, penyandang Down Syndrome memiliki kesempatan besar untuk tumbuh, belajar, dan menjalani kehidupan yang produktif.

Kesadaran masyarakat mengenai Down Syndrome menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan menghargai keberagaman setiap individu.

(DAW)

Berita Hukum Dan Kriminal
Advertisement