Sembilan Tewas Dalam Serangan Israel Di Gaza, Perundingan Baru Digelar Di Kairo

Sembilan Tewas dalam Serangan Israel di Gaza, Perundingan Baru Digelar di Kairo

Para pelayat di pemakaman Abdullah Qaddoum dan putrinya yang berusia lima tahun, Maryam. Mereka tewas pada 6 Juni setelah Israel membombardir tempat penampungan Rimal untuk warga Palestina yang mengungsi akibat perang di Kota Gaza [AFP]

Newestindonesia.co.id, Sedikitnya sembilan warga Palestina tewas dalam serangkaian serangan militer Israel di Jalur Gaza pada Sabtu (7/6), ketika Mesir kembali menggelar upaya diplomatik untuk menyelamatkan proses gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Hamas.

Menurut sumber medis Palestina yang dikutip melalui Reuters dan Al Jazeera, Senin (8/6/2026), lima orang tewas dan sedikitnya 16 lainnya terluka ketika serangan udara Israel menghantam sebuah pos kepolisian di Kota Khan Younis, Gaza selatan. Lokasi tersebut berada di dekat area pengungsian yang dihuni keluarga-keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat perang yang telah berlangsung selama lebih dari dua tahun.

Dalam insiden terpisah di Gaza City, empat warga Palestina lainnya dilaporkan tewas setelah sebuah kendaraan menjadi sasaran serangan udara Israel. Militer Israel belum memberikan rincian terkait serangan kedua tersebut.

Militer Israel menyatakan bahwa serangan di Khan Younis menargetkan pusat komando yang digunakan oleh Hamas untuk mengatur aktivitas militer dan keamanan. Namun, otoritas kesehatan Palestina mengatakan sebagian besar korban merupakan warga sipil yang berada di sekitar lokasi serangan.

Diplomasi Baru di Kairo

Di tengah meningkatnya ketegangan di lapangan, Mesir menjadi tuan rumah putaran baru pembicaraan antara Hamas dan sejumlah faksi Palestina lainnya di Kairo. Perundingan tersebut bertujuan mempertahankan kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku beberapa bulan lalu namun terus menghadapi pelanggaran dan hambatan implementasi.

Sumber yang dekat dengan proses negosiasi menyebutkan bahwa salah satu isu paling sensitif dalam pembicaraan adalah masa depan aparat keamanan dan kepolisian yang saat ini berada di bawah kendali Hamas di Jalur Gaza. Selain itu, para mediator juga membahas mekanisme distribusi bantuan kemanusiaan, penarikan pasukan Israel, serta pengaturan pemerintahan pascaperang di wilayah tersebut.

Baca juga:  Korea Selatan Mulai Penyelidikan Dugaan Korupsi Ke Mantan Presiden Yoon Suk Yeol

Hamas menegaskan bahwa kemajuan dalam perundingan hanya dapat dicapai apabila Israel menghentikan operasi militernya, meningkatkan akses bantuan kemanusiaan, dan menarik pasukannya ke garis yang telah disepakati dalam tahap awal gencatan senjata.

Gencatan Senjata Masih Rapuh

Meskipun gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar berhasil menghentikan sebagian besar pertempuran besar, sejumlah persoalan utama masih belum menemukan titik temu. Dua isu yang paling sulit diselesaikan adalah tuntutan Israel agar Hamas dilucuti senjatanya dan tuntutan Hamas agar seluruh pasukan Israel ditarik dari Gaza.

Hingga kini, pasukan Israel masih menguasai lebih dari separuh wilayah Gaza. Sementara itu, jutaan warga Palestina tetap hidup dalam kondisi pengungsian dengan keterbatasan akses terhadap makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan tempat tinggal yang layak.

Korban Konflik Terus Bertambah

Otoritas kesehatan Palestina menyebut jumlah korban tewas di Gaza sejak perang meletus setelah serangan Hamas ke Israel pada Oktober 2023 telah melampaui 73.000 orang. Sebagian besar korban dilaporkan merupakan warga sipil.

Di pihak Israel, sekitar 1.200 orang tewas dalam serangan Hamas pada Oktober 2023 yang memicu perang, sementara ratusan lainnya sempat disandera.

Mesir, yang selama bertahun-tahun berperan sebagai mediator utama dalam konflik Israel-Palestina, kini kembali berupaya menjembatani perbedaan antara kedua pihak. Namun, serangan terbaru di Gaza menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian permanen masih menghadapi tantangan besar di tengah terus berlanjutnya kekerasan di lapangan.

(DAW)