Hampir 100 Hari Terjebak Di Selat Hormuz, Pelaut Hidup Dalam Ketakutan Di Tengah Ancaman Rudal Dan Drone

terjebak-di-selat-hormuz-selama-hampir-100-hari-hanya-ada-satu-jalan-keluar-1780816016698

Para pelaut yang terjebak di atas kapal karena tak bisa melintasi Selat Hormuz (via BBC)

Newestindonesia.co.id, Ribuan pelaut dari berbagai negara saat ini menghadapi situasi yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Mereka terjebak di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran terpenting dunia, selama hampir 100 hari akibat meningkatnya konflik militer di kawasan Timur Tengah.

Dilansir melalui BBC Indonesia (7 Juni 2026), Di tengah ancaman serangan rudal, drone, hingga baku tembak jet tempur, para awak kapal harus bertahan hidup dengan persediaan makanan yang semakin menipis, gangguan komunikasi, dan ketidakpastian kapan mereka bisa kembali ke rumah. Kisah mereka menjadi gambaran nyata tentang dampak perang terhadap warga sipil yang tidak terlibat dalam konflik.

Hidup di Bawah Bayang-Bayang Rudal

Amir, seorang pelaut asal Pakistan yang bekerja di atas kapal tanker minyak di kawasan Uni Emirat Arab, menggambarkan bagaimana situasi perang kini menjadi bagian dari kesehariannya.

“Saya melihat drone dan rudal jelajah Iran terbang rendah,” katanya.

Ia mengaku sering mendengar suara jet tempur yang melintas di langit, namun tidak mengetahui berasal dari negara mana.

Menurut Amir, ancaman terbesar bukan hanya serangan langsung, tetapi juga kemungkinan puing-puing rudal atau drone yang berhasil dicegat kemudian jatuh ke kapal tempat mereka bekerja.

Ketakutan serupa dirasakan Hein, pelaut asal Myanmar. Ia mengatakan baku tembak udara hampir menjadi pemandangan sehari-hari.

“Baru pagi ini, dua jet tempur saling menembak saat kami masih bekerja,” ujarnya.

“Tidak ada tempat berlindung khusus di kapal untuk situasi seperti ini, jadi kami hanya bisa berlari masuk ke dalam.”

Karena alasan keamanan, nama para pelaut tersebut telah disamarkan.

Sekitar 20.000 Pelaut Terjebak

Ketua Asosiasi Perwira Angkatan Laut Niaga Bangladesh, Kapten Anam Chowdhury, memperkirakan sekitar 20.000 pelaut saat ini terjebak di wilayah Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Sebagian berada di laut lepas, sementara lainnya tertahan di pelabuhan-pelabuhan sekitar kawasan konflik.

Menurut Chowdhury, tidak ada tempat yang benar-benar aman.

“Di dalam pelabuhan, orang mungkin berpikir situasinya aman, tetapi sudah ada kapal-kapal yang dibombardir saat sedang berlabuh,” jelasnya.

Organisasinya mencatat sedikitnya tujuh kapal mengalami kerusakan akibat serangan proyektil sejak konflik meningkat.

Baca juga:  Beirut Dibombardir! 6 Tewas, Gedung Runtuh Total Dalam Serangan Israel

Salah satu insiden paling tragis terjadi pada 1 Maret ketika seorang pelaut tewas di atas kapal tanker Skylark yang terdaftar di Republik Palau.

Serangan tersebut menyebabkan kebakaran hebat di ruang mesin dan memaksa awak kapal melakukan evakuasi darurat.

“Para pelaut yang selamat mengalami trauma,” kata Chowdhury.

Tiga WNI Hilang Setelah Kapal Tenggelam

Dampak konflik juga dirasakan warga Indonesia.

Sebuah kapal tunda berbendera Uni Emirat Arab bernama Musaffah 2 mengalami ledakan dan tenggelam saat melintasi Selat Hormuz pada awal Maret.

Kapal tersebut diawaki tujuh orang, termasuk empat warga negara Indonesia.

Akibat insiden tersebut, tiga WNI dinyatakan hilang, sementara satu lainnya mengalami luka-luka.

Peristiwa itu menjadi salah satu contoh nyata bagaimana konflik geopolitik dapat mengancam keselamatan para pekerja maritim yang hanya menjalankan tugasnya mencari nafkah.

Sulit Mendapatkan Kabar dari Laut

Selain ancaman serangan, para pelaut dan keluarga mereka juga menghadapi masalah komunikasi.

Pembatasan internet dan jaringan telepon di sejumlah wilayah membuat keluarga kesulitan memperoleh kabar terbaru mengenai kondisi anggota keluarga mereka yang bekerja di laut.

Ali Abbas, seorang ayah yang putranya bekerja di kapal yang sedang bersandar di pelabuhan Iran dekat Selat Hormuz, mengaku hidup dalam kecemasan.

Ia terakhir kali berbicara dengan putranya beberapa hari sebelum terjadi serangan rudal di kawasan tersebut.

“Saya menyembunyikan hal ini dari istri dan menantu saya,” katanya dengan suara bergetar.

Setelah serangan terbaru terjadi, ia tidak lagi bisa menghubungi putranya.

“Demi Tuhan, tolong bantu saya,” ujarnya penuh harap.

Ali masih berharap putranya selamat dan hanya terkendala gangguan komunikasi.

Gangguan GPS Membahayakan Pelayaran

Kesulitan lain yang dihadapi para pelaut adalah gangguan sistem navigasi satelit.

Seo-jun, kapten kapal yang mengangkut lebih dari 20 awak asal Korea Selatan dan Myanmar, mengatakan gangguan GPS semakin sering terjadi sejak konflik memanas.

“Sejak perang dimulai, gangguan GPS muncul secara berkala, tetapi dalam tiga atau empat hari terakhir kondisinya jauh lebih buruk,” katanya.

Baca juga:  Tak Pilih AS, Tak Jauh dari China? Langkah Keir Starmer Temui Xi Jinping

Menurut Seo-jun, kapal yang dipimpinnya bahkan harus memasuki Dubai tanpa bantuan GPS.

“Ada pepatah Korea yang menggambarkan situasi itu seperti orang buta meraba gagang pintu,” ujarnya.

Gangguan navigasi ini meningkatkan risiko kecelakaan laut, terutama di jalur pelayaran yang sangat padat seperti Selat Hormuz.

Persediaan Makanan dan Air Mulai Menipis

Bagi banyak awak kapal, ancaman perang bukan satu-satunya masalah.

Persediaan makanan dan air bersih kini menjadi kekhawatiran utama.

Seo-jun mengungkapkan bahwa kapalnya hanya memiliki stok makanan segar untuk sekitar dua minggu.

Sementara itu, ketersediaan air minum semakin terbatas karena kapal tidak dapat memproduksi air tawar secara optimal ketika tidak berlayar.

Masood, pelaut asal Pakistan, mengatakan mereka sudah dua bulan tidak menerima pasokan baru.

“Sudah dua bulan sejak kami terakhir kali mengisi perbekalan di kapal,” katanya.

Hein menambahkan bahwa sebelum konflik pecah, awak kapal dapat menikmati makanan segar dan mengambil air minum kapan saja.

Kini, sistem kuota diterapkan.

Menurutnya, para awak hanya mendapatkan satu kali makan per hari yang terdiri dari empat potong kecil daging dan satu mangkuk sayuran goreng.

Persediaan yang tersisa diperkirakan hanya cukup untuk satu bulan.

“Hidup kami sangat memprihatinkan di sini dan kami hanya memiliki sedikit bahan bakar dan makanan,” ujar pelaut Pakistan lainnya, Zeeshan.

Bertahan dengan Harapan

Meski hidup dalam tekanan, para pelaut berusaha mempertahankan semangat.

Amir mengatakan mereka mencoba tetap sibuk dengan pekerjaan rutin, latihan fisik, serta simulasi keselamatan.

“Tidak ada yang bisa merasa tenang atau bahagia dalam situasi seperti ini,” katanya.

Sementara itu, Hein yang menjabat sebagai insinyur senior memilih fokus pada keselamatan awak kapal yang menjadi tanggung jawabnya.

“Saya tidak membiarkan diri saya putus asa karena saya bertanggung jawab atas 20 awak Myanmar lainnya,” ujarnya.

Ia bahkan telah menyiapkan rencana evakuasi darurat jika situasi memburuk.

“Saya sudah memberi tahu tim saya bagaimana harus berlari, dari mana harus melompat, dan apa yang harus dibawa jika sesuatu terjadi.”

Ancaman Daftar Hitam dan Paspor Ditahan

Masalah lain yang dihadapi para pelaut adalah keterbatasan untuk meninggalkan kapal.

Baca juga:  RI Cari Sumber Minyak Baru, Bahlil: Stok BBM InsyaAllah Aman

Beberapa awak kapal mengaku paspor mereka ditahan oleh perusahaan pelayaran sehingga tidak dapat pergi meskipun situasi semakin berbahaya.

Selain itu, pelaut yang memilih meninggalkan kapal sebelum kontrak berakhir berisiko masuk daftar hitam perusahaan pelayaran, yang dapat menyulitkan mereka memperoleh pekerjaan di masa depan.

Kondisi tersebut membuat banyak awak kapal merasa terjebak dalam situasi tanpa pilihan.

“Nyawa Manusia Tidak Bisa Diganti Asuransi”

Di tengah seluruh ketidakpastian tersebut, Amir menyampaikan pesan yang menurutnya harus menjadi perhatian industri pelayaran global.

Ia meminta perusahaan pelayaran tidak memaksa kapal melintasi kawasan berbahaya hanya demi kepentingan bisnis.

Menurutnya, ketika kapal diserang rudal atau drone, yang paling menderita adalah manusia yang berada di atasnya.

Kargo dan kapal memang dapat diasuransikan, tetapi tidak dengan nyawa manusia.

“Nyawa manusia tidak bisa digantikan oleh asuransi apa pun,” tegasnya.

Dampak Jangka Panjang bagi Pelayaran Dunia

Para pelaut percaya krisis di Selat Hormuz akan meninggalkan dampak besar terhadap industri pelayaran global.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menghubungkan negara-negara produsen minyak di Teluk Persia dengan pasar dunia.

Gangguan terhadap jalur ini tidak hanya memengaruhi keselamatan pelaut, tetapi juga perdagangan internasional, distribusi energi, dan stabilitas ekonomi global.

Kapten Anam Chowdhury menilai para pelaut sejatinya hanyalah korban dari konflik yang tidak mereka ciptakan.

“Orang-orang seharusnya tidak menjadikan kapal sebagai korban. Ketika kapal dijadikan korban, para pelaut juga ikut menjadi korban. Mereka adalah orang-orang yang tidak bersalah,” ujarnya.

Di tengah dentuman rudal, ancaman drone, dan ketidakpastian perang, ribuan pelaut di Selat Hormuz kini hanya memiliki satu harapan: dapat kembali pulang dengan selamat kepada keluarga mereka.

(DAW)