Newestindonesia.co.id, Sebuah video yang memperlihatkan seorang ibu hamil ditandu warga selama tujuh jam menuju rumah sakit viral di media sosial. Peristiwa memilukan itu terjadi di Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Na Tolu, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara.
Dalam video yang beredar, ibu hamil tersebut dibawa menggunakan tandu sederhana dari bambu dan kain. Belasan warga tampak bergantian menggotongnya melewati jalan pegunungan yang rusak parah demi mendapatkan akses kendaraan menuju rumah sakit.
Perjalanan panjang itu ditempuh karena akses jalan di wilayah tersebut tidak memungkinkan kendaraan masuk. Warga harus berjalan kaki sejauh sekitar 30 kilometer untuk mencapai Dusun Hasahatan, Kecamatan Sipirok, agar pasien bisa dibawa menggunakan mobil menuju fasilitas kesehatan.
Mantri Desa, Samsul Bahri Sihombing, mengungkapkan dirinya mendapat kabar mengenai kondisi ibu hamil tersebut pada Jumat (8/5/2026) sore. Ia kemudian berjalan kaki menuju lokasi dan tiba sekitar pukul 20.00 WIB.
“Kan saya dapat telepon itu, makanya Jumat itu, sore berangkat ke sana tiba saya sampai di sana habis salat Isya, kira-kira jam 8 malam. Ternyata saya cek, menurut amat saya tadi, bayi yang di dalam petut itu di kandungan ibu itu telah meninggal,” kata Samsul Bahri Sihombing dikutip melalui detikSumut, Rabu (13/05/2026).
Setelah melakukan pemeriksaan awal, Samsul menyarankan agar pasien segera dibawa ke rumah sakit di Sipirok untuk menjalani operasi. Namun karena kondisi jalan yang sulit dilalui kendaraan, warga akhirnya melakukan evakuasi secara manual.
“Makanya saya anjurkan pada hari Sabtu tanggal 9, dibawa ke rumah sakit. Makanya dibawa, digotong lah, ditandu, rame-rame. Sekitar perjalanan 7 jam menempuh 30 kilometer lah biar sampai ke Dusun Hasahatan, Kecamatan Sipirok, biar dapat mobil,” ujarnya.
Rombongan warga baru tiba di rumah sakit pada Sabtu sore. Operasi kemudian dilakukan keesokan harinya. Sang ibu berhasil selamat, namun bayi yang dikandungnya dinyatakan meninggal dunia.
Peristiwa ini pun mendapat perhatian dari Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution. Ia menyampaikan belasungkawa atas kejadian tersebut dan menyoroti persoalan infrastruktur di daerah terpencil.
“Kami dari provinsi menyampaikan belasungkawa juga atas kondisi ini dan tadi anaknya disampaikan di rumah sakit sudah meninggal,” kata Bobby Nasution.
Bobby mengaku akan mengecek kondisi jalan di wilayah tersebut, termasuk memastikan apakah perbaikan jalan sudah masuk dalam anggaran pemerintah daerah.
“Untuk detailnya saya belum termonitor, yang pasti persoalan bukan di fasilitas kesehatannya tapi persoalannya di infrastruktur jalan, jalan kabupaten, nanti akan kita cek apakah sudah dianggarkan bupati tahun ini atau seperti apa,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memiliki program bantuan infrastruktur daerah melalui skema bantuan keuangan provinsi (BKP), termasuk percepatan pembangunan Puskesmas rawat inap untuk wilayah yang jauh dari rumah sakit.
Menurut Bobby, salah satu prioritas program tersebut adalah desa-desa yang berjarak lebih dari 30 kilometer dari rumah sakit rujukan.
Sementara itu, Samsul menyebut kejadian serupa bukan kali pertama terjadi di wilayah tersebut. Buruknya akses jalan membuat warga sering harus menandu pasien selama berjam-jam demi mendapatkan layanan kesehatan.
“Dari dusun yang lain, Dusun itu kan orang itu satu desa tiga dusun. Pambongol itu, sudah dua kali kejadian kayak gitu juga, digotong menuju Kecamatan Arse. Itu pun sekitar 7 jam lah diperjalanan itu,” tuturnya.
Peristiwa ini kembali memunculkan sorotan terhadap kondisi infrastruktur di daerah terpencil, terutama akses jalan menuju layanan kesehatan yang dinilai masih jauh dari memadai.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp


