Newestindonesia.co.id, Kasus dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Pulogebang, Jakarta Timur, menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sebanyak 252 siswa dilaporkan mengalami gejala keracunan usai menyantap menu MBG berupa pangsit isi tahu.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengungkapkan bahwa dari total 609 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi di Jakarta, baru 167 SPPG yang memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Fakta tersebut mencuat di tengah penyelidikan kasus dugaan keracunan yang menimpa ratusan siswa di Jakarta Timur.
Staf Khusus Gubernur Jakarta, Chico Hakim, mengatakan SPPG Pulogebang 15 yang diduga menjadi sumber persoalan masih dalam proses pengurusan sertifikat higienis.
“SPPG (Pulogebang 15) ini beroperasi sejak 31 Maret 2026 dan masih dalam proses pengurusan SLHS sesuai Peraturan Ka. BGN No. 4/2026,” ujar Chico Hakim.
Ia menjelaskan hasil inspeksi kesehatan lingkungan di lokasi tersebut belum sepenuhnya memenuhi syarat sehingga proses penerbitan sertifikat masih berjalan.
“Hasil inspeksi lingkungan belum sepenuhnya memenuhi syarat, sehingga proses SLHS masih berjalan. Saat ini dari total 609 SPPG di Jakarta, baru 167 yang memiliki SLHS,” lanjutnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengatakan pihaknya bersama Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur telah melakukan pembinaan serta pengawasan terhadap SPPG Pulogebang sebelum kejadian terjadi.
“Dinas Kesehatan melalui Sudin Kesehatan Jakarta Timur telah melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap SPPG Pulogebang,” kata Ani Ruspitawati.
Menurut Ani, bentuk pengawasan yang dilakukan mencakup inspeksi kesehatan lingkungan, pelatihan bagi penjamah makanan, hingga proses penerbitan sertifikat laik higiene sanitasi.
“Bentuk pembinaan dan pengawasan melalui inspeksi kesehatan lingkungan, pelatihan bagi penjamah makanannya dan penerbitan SLHS,” ujarnya.
Dinkes DKI mencatat dari total 252 siswa yang melaporkan gejala keracunan, sebanyak 188 siswa telah mengakses fasilitas kesehatan. Sementara itu, 26 siswa masih menjalani perawatan hingga Sabtu (9/5).
“Yang berikut mengakses faskes sejumlah 188 dan yang dirawat hingga hari ini ada 26,” kata Ani.
Dugaan sementara, sumber keracunan berasal dari menu pangsit isi tahu yang disajikan dalam program MBG. Sejumlah siswa disebut mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan tersebut dan mengeluhkan rasa makanan yang masam.
Kasus ini menambah daftar evaluasi terhadap implementasi program MBG di berbagai daerah. Sebelumnya, sejumlah kasus serupa juga dilaporkan terjadi di beberapa wilayah lain di Indonesia, sehingga pengawasan terhadap standar keamanan pangan dan sertifikasi dapur MBG kembali menjadi sorotan publik.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan akan merespons serius kejadian tersebut sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terkait penyebab pasti dugaan keracunan massal itu.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp


