Newestindonesia.co.id, Kenakalan remaja bukanlah fenomena baru. Namun dalam beberapa tahun terakhir, perilaku menyimpang di kalangan anak dan remaja semakin sering muncul ke permukaan—mulai dari perkelahian, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, hingga kecanduan gawai dan media sosial.
Tak sedikit orang tua yang terkejut ketika anak yang selama ini terlihat “baik-baik saja” tiba-tiba terlibat masalah serius. Pertanyaannya, apa sebenarnya yang terjadi dengan generasi muda hari ini? Dan yang terpenting: apa yang harus dilakukan orang tua?
Kenakalan Remaja Bukan Sekadar “Anak Nakal”
Banyak orang tua masih memandang kenakalan remaja sebagai bentuk pembangkangan biasa. Padahal, para ahli perkembangan anak menilai perilaku ini sering kali merupakan sinyal adanya masalah emosional, sosial, atau psikologis.
Menurut berbagai laporan pendidikan dan sosial dari organisasi internasional seperti UNICEF dan World Health Organization, masa remaja adalah fase paling rentan dalam kehidupan manusia. Pada periode ini, anak:
- Mencari jati diri
- Mudah terpengaruh lingkungan
- Emosi belum stabil
- Otak belum berkembang sempurna dalam pengambilan keputusan
Artinya, banyak tindakan impulsif remaja bukan karena ingin jahat — tetapi karena belum mampu mengelola emosi dan tekanan sosial.
Faktor Penyebab Kenakalan Remaja yang Sering Diabaikan
Kurangnya Perhatian Emosional di Rumah
Banyak orang tua merasa cukup dengan memenuhi kebutuhan materi: uang jajan, sekolah bagus, gawai mahal. Namun lupa pada kebutuhan paling penting: didengar dan dipahami.
Anak yang jarang diajak bicara dari hati ke hati cenderung mencari perhatian di luar rumah — termasuk lewat perilaku negatif.
Tekanan Media Sosial dan Lingkungan
Kini remaja hidup dalam dunia digital yang penuh standar palsu:
- Popularitas
- Gaya hidup glamor
- Konten kekerasan
- Tantangan ekstrem demi viral
Tanpa pendampingan orang tua, anak mudah meniru hal-hal berbahaya demi pengakuan sosial.
Pola Asuh Terlalu Keras atau Terlalu Bebas
Dua ekstrem yang sama-sama berisiko:
Terlalu keras:
- Anak takut terbuka
- Cenderung memberontak diam-diam
Terlalu bebas:
- Tanpa batasan
- Tidak belajar tanggung jawab
Pola asuh seimbang terbukti paling efektif membentuk karakter sehat.
Masalah Mental yang Tak Terdeteksi
Stres sekolah, bullying, rasa tidak diterima, hingga depresi ringan sering tidak disadari orang tua.
Padahal banyak perilaku nakal merupakan bentuk “teriakan minta tolong”.
Tanda-Tanda Anak Mulai Terjerumus Kenakalan
Orang tua perlu peka terhadap perubahan berikut:
- Mendadak tertutup
- Prestasi turun drastis
- Sering berbohong
- Mudah marah
- Mengganti lingkar pertemanan ekstrem
- Kecanduan HP atau keluar malam berlebihan
Semakin cepat disadari, semakin mudah dicegah.
Lalu, Orang Tua Harus Berbuat Apa?
1. Bangun Komunikasi Tanpa Menghakimi
Daripada langsung memarahi, coba dengarkan:
- “Kamu kenapa?”
- “Ada yang bikin kamu tertekan?”
- “Ayah/Ibu mau bantu”
Anak yang merasa aman akan lebih terbuka.
2. Hadir Secara Emosional, Bukan Hanya Fisik
Luangkan waktu:
- Makan bersama
- Ngobrol sebelum tidur
- Tanya kabar sekolah
Kehadiran sederhana ini berdampak besar.
3. Buat Aturan Jelas tapi Masuk Akal
Misalnya:
- Jam pulang
- Batas screen time
- Konsekuensi yang konsisten
Bukan hukuman kasar, tapi pembelajaran tanggung jawab.
4. Kenali Teman dan Lingkungannya
Bukan memata-matai, tapi peduli.
Undang teman ke rumah, kenal orang tuanya, pahami aktivitas mereka.
5. Jangan Ragu Minta Bantuan Profesional
Jika perilaku sudah ekstrem:
- Konselor sekolah
- Psikolog anak
- Terapis keluarga
Mencari bantuan bukan kegagalan — tapi bentuk kepedulian.
Peran Sekolah dan Masyarakat Juga Penting
Kenakalan remaja bukan hanya tanggung jawab orang tua. Sekolah, lingkungan, dan media juga punya peran besar dalam membentuk karakter anak.
Program:
- Edukasi mental health
- Kegiatan positif remaja
- Ruang aman untuk curhat
Terbukti menurunkan angka kenakalan.
Kesimpulan: Anak Nakal Bukan Anak Jahat
Di balik perilaku menyimpang, hampir selalu ada:
- Luka emosional
- Kurang perhatian
- Tekanan hidup
Ketika orang tua hadir dengan cinta, komunikasi, dan batasan sehat — sebagian besar masalah bisa dicegah sejak dini.
Remaja tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka hanya butuh orang tua yang peduli dan mau mendengarkan.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login