Newestindonesia.co.id, Seorang wanita berusia 35 tahun ditemukan meninggal dunia setelah diterkam buaya saat mencari lokan, sejenis kerang tiram, di sepanjang aliran Sungai Luan Boya, Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh. Peristiwa tragis itu terjadi pada Minggu (15/2) sekitar pukul 11.00 WIB dan baru terungkap setelah upaya pencarian intensif selama beberapa jam.
Korban, yang dikenal dengan inisial JW, merupakan seorang ibu rumah tangga (IRT) dan warga Desa Bulu Hadek, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Simeulue. Ia dilaporkan hilang oleh temannya saat tengah mencari lokan di sungai tersebut.
Awal Kejadian dan Pencarian Korban
Kapolsek Teluk Dalam, Ipda Zainur, mengatakan bahwa informasi mengenai hilangnya JW diterima oleh kepolisian dari masyarakat.
“Korban meninggal dunia setelah diterkam buaya. Saat itu, korban sedang mencari lokan bersama temannya. Serangan buaya tersebut terjadi pada Minggu (15/2),” ujar Zainur saat dikonfirmasi petang tadi, dikutip melalui Antara Aceh.
Setelah menerima laporan, pihak kepolisian bersama anggota langsung bergerak menuju aliran Sungai Luan Boya. Pencarian dilakukan dengan menyusuri tepian sungai bersama warga setempat di bawah terik matahari.
“Pencarian dilakukan dengan menyisir sungai. Korban akhirnya ditemukan dengan kondisi dalam cengkeraman buaya yang muncul di pinggir sungai,” jelas Kapolsek.
Evakuasi dan Penanganan
Warga bersama anggota polisi dan Koramil bahu-membahu melakukan upaya penyelamatan menggunakan kayu, tali, dan peralatan seadanya. Setelah perjuangan beberapa saat, jasad wanita tersebut berhasil dilepaskan dari cengkeraman buaya, namun sudah dalam kondisi meninggal dunia.
“Selanjutnya korban diserahkan kepada keluarga untuk proses fardu kifayah,” tambah Zainur.
Jenazah korban kemudian diurus oleh pihak keluarga untuk dishalatkan dan dimakamkan sesuai dengan adat setempat.
Imbauan Warga dan Langkah Pemerintah Desa
Kapolsek Zainur juga mengimbau masyarakat yang beraktivitas di sekitar sungai agar lebih berhati-hati terhadap ancaman buaya, terutama saat melakukan kegiatan seperti mencari kerang, memancing, mandi, atau mencuci di aliran sungai.
“Kami juga instruksikan Bhabinkamtibmas untuk meningkatkan patroli dan pemantauan di sungai-sungai yang rawan keberadaan buaya guna mencegah terjadinya korban susulan,” ujar Zainur.
Sementara itu, Camat Teluk Dalam, Andrik Dasandra, mengatakan pihaknya telah meminta ketua dan kepala desa di wilayah itu untuk memberikan imbauan keselamatan kepada warga.
“Kami mengimbau masyarakat tidak beraktivitas di area rawan gangguan buaya seperti di sungai, muara, maupun perairan di kawasan Teluk Dalam dan sekitarnya,” tegas Andrik.
Konteks dan Potensi Risiko Buaya di Aceh
Peristiwa yang menimpa JW ini bukanlah yang pertama kali di wilayah Aceh terjadi konflik antara manusia dan buaya di sungai atau muara, terutama di daerah pesisir yang memiliki habitat predator tersebut. Kejadian serupa menunjukkan pentingnya kewaspadaan ekstra bagi masyarakat yang bergantung pada ekosistem sungai untuk kebutuhan sehari-hari.
Kasus ini menjadi peringatan penting tidak hanya bagi warga Simeulue, tetapi juga masyarakat yang berada di wilayah rawan satwa liar. Koordinasi antara kepolisian, aparat desa, serta keterlibatan warga menjadi kunci untuk mencegah tragedi serupa terulang di masa mendatang.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login