Newestindonesia.co.id – Moskow, Pemerintah Rusia menegaskan kembali komitmennya untuk mematuhi batasan senjata nuklir yang terkandung dalam perjanjian kontrol senjata terakhir dengan Amerika Serikat, asalkan Washington juga melakukan hal yang sama.
Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, dalam pidato resmi yang dibacakan di parlemen Rusia pada Rabu (11/2/2026), di tengah kekhawatiran global atas masa depan kontrol senjata nuklir setelah berakhirnya Traktat New START.
Traktat New START, yang ditandatangani pada 2010 dan diperpanjang sekali pada 2021, selama lebih dari satu dekade membatasi kedua negara untuk memiliki maksimal 1.550 hulu ledak nuklir yang ditempatkan serta 700 sistem peluncur strategis masing-masing. Namun perjanjian itu resmi berakhir pada 5 Februari 2026 tanpa pengganti yang disetujui kedua pihak.
Dalam pidatonya, Lavrov menegaskan bahwa “moratorium” atas peningkatan jumlah persenjataan nuklir yang diumumkan oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin, tetap berlaku — tetapi hanya jika Amerika Serikat juga tidak melampaui batasan yang sama.
“Kami berangkat dari fakta bahwa moratorium ini… tetap berlaku, tetapi hanya selama Amerika Serikat tidak melampaui batasan yang telah ditetapkan,” ujarnya di hadapan anggota parlemen dikutip melalui AFP.
Lavrov juga menanggapi pernyataan sebelumnya dari kementeriannya yang menyatakan bahwa Rusia tidak lagi terikat oleh ketentuan perjanjian tersebut setelah berakhirnya masa berlaku. Ia menyatakan pernyataan itu ditarik kembali untuk menegaskan posisi bahwa komitmen pembatasan masih relevan secara kondisional.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya disebut oleh laporan media sebagai pihak yang menolak tawaran Rusia untuk memperpanjang batasan New START selama satu tahun lagi. Trump menyatakan bahwa perjanjian tersebut “dinegosiasikan dengan buruk” dan menekankan pentingnya perjanjian baru daripada sekadar perpanjangan.
Ketiadaan perjanjian nuklir formal saat ini mengundang kekhawatiran di kalangan pakar strategi global. Dengan New START yang telah resmi berakhir, tidak ada batas legal yang mengikat jumlah hulu ledak yang boleh dimiliki atau ditempatkan oleh Rusia dan AS — dua negara yang bersama-sama menguasai sebagian besar persenjataan nuklir dunia.
Namun beberapa perkembangan diplomatik baru-baru ini menunjukkan adanya upaya memperbaiki komunikasi. Menurut laporan, Washington dan Moskow tengah merestart dialog militer dan kontak tingkat tinggi, yang sempat terhenti sejak konflik Ukraina pada 2022. Langkah ini dianggap sebagai bagian dari usaha untuk mencegah kesalahpahaman strategis saat batasan formal sudah hilang.
Pengamat juga mencatat bahwa tanpa kerangka perjanjian yang kuat, potensi perlombaan senjata atau eskalasi strategis meningkat, dengan geo-politik nuklir yang bisa melibatkan negara lain seperti China di masa depan.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login