Newestindonesia.co.id, Kondisi penglihatan yang umum pada pria dan wanita di seluruh dunia, yaitu buta warna, ternyata bukan sekadar gangguan visual biasa. Dalam studi terbaru, para peneliti menemukan bahwa kondisi ini berpotensi membuat peringatan dini kanker kandung kemih tak terdeteksi, sehingga pasien bisa datang ke dokter di stadium yang lebih lanjut dan prognosisnya lebih buruk.
Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Ehsan Rahimy, profesor di Stanford Medicine dan penulis senior studi, menunjukkan bahwa warna darah yang tampak dalam urine—salah satu tanda awal kanker kandung kemih—bisa sulit dikenali oleh orang yang memiliki gangguan penglihatan warna, khususnya yang kesulitan membedakan warna merah dan hijau.
Kanker kandung kemih seringkali tidak menimbulkan rasa sakit pada tahap awal, sehingga penanda visual seperti urine berdarah menjadi penting bagi pasien untuk menyadari sesuatu yang tidak biasa pada tubuh mereka.
Dalam penelitian itu, tim Dr. Rahimy membandingkan data medis dari 135 pasien yang mengidap kanker kandung kemih dan buta warna dengan 135 pasien yang hanya memiliki kanker kandung kemih tanpa gangguan warna.
Hasilnya menunjukkan bahwa pasien buta warna lebih sering didiagnosis pada stadium lanjut dan invasif, serta menghadapi risiko kematian 52 persen lebih tinggi dalam 20 tahun setelah diagnosis dibandingkan mereka yang penglihatan warnanya normal.
Seorang pakar yang tidak terlibat dalam penelitian ini, Dr. Verru Kasivisvanatha, ahli onkologi urologi dan ahli bedah dari University College London, menekankan risiko keterlambatan diagnosis tersebut.
“Kanker kandung kemih adalah penyakit yang buruk. Jika Anda menunda diagnosis, itu akan memengaruhi prognosis Anda,” ujar Dr. Kasivisvanatha dikutip melalui NY Post.
Meskipun demikian, para peneliti juga mencatat adanya keterbatasan pada studi tersebut. Salah satunya adalah bahwa buta warna sering tidak terdiagnosis, sehingga beberapa pasien mungkin secara tidak sengaja dikategorikan sebagai memiliki penglihatan normal, yang berpotensi memengaruhi hasil analisis.
Meski begitu, temuan ini dianggap cukup signifikan untuk mendorong penelitian lebih lanjut. Para ahli menyarankan agar dokter lebih waspada ketika menangani pasien dengan gangguan penglihatan warna—khususnya mereka yang melaporkan gejala saluran kemih seperti perubahan pada urine.
Dr. Masahito Jimbo, seorang spesialis kedokteran keluarga di Universitas Illinois di Chicago yang juga mempelajari praktik skrining kanker, menegaskan pentingnya kewaspadaan ini.
“Saya akan tetap waspada dan mempertimbangkan kemungkinan kanker kandung kemih pada pasien buta warna yang mengalami gejala saluran kemih,” imbuh Dr. Jimbo.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login