Newestindonesia.co.id – New York, Wall Street kembali memerah pada perdagangan Kamis (5/2), setelah indeks saham utama AS terkoreksi tajam dipicu oleh turunnya harga saham perusahaan teknologi besar dan data tenaga kerja yang mengecewakan, menurut laporan AP News.
Indeks S&P 500 turun 1,1%, melanjutkan penurunan yang menandai enam hari melemah dalam tujuh hari terakhir, sementara Dow Jones turun 425 poin (0,9%) dan Nasdaq anjlok 1,5%, mencerminkan koreksi signifikan di pasar ekuitas.
Salah satu pemicu utama pelemahan itu adalah saham perusahaan teknologi besar, termasuk penurunan tajam harga saham Alphabet, induk Google. Meskipun perusahaan mencatat laba kuartalan yang lebih kuat dibandingkan ekspektasi analis, fokus investor bergeser pada rencana pengeluaran modal agresif. Alphabet menyatakan rencananya akan menggandakan investasi terkait kecerdasan buatan (AI) hingga sekitar US$180 miliar tahun ini, jauh melampaui ekspektasi pasar, yang kemudian menekan harga sahamnya turun sekitar 4,5%.
Tekanan tersebut turut mempengaruhi pasar global: indeks Kospi Korea Selatan mencatat penurunan 3,9% di sesi perdagangan Asia, menunjukkan reaksi negatif investor terhadap geliat saham teknologi AS di sesi sebelumnya.
Data Tenaga Kerja AS Memperburuk Sentimen Pasar
Selain sentimen terhadap saham teknologi, pasar juga merespon data tenaga kerja yang kurang menggembirakan. Jumlah klaim tunjangan pengangguran meningkat lebih tinggi dari perkiraan ekonom, sementara jumlah lowongan kerja di AS mengalami kontraksi. Data ini menunjukkan potensi perlambatan tajam dalam pertumbuhan pasar tenaga kerja, yang memicu spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) mungkin mempertimbangkan pemangkasan suku bunga untuk merangsang perekonomian.
Ketidakpastian kebijakan moneter ini turut menarik perhatian investor global, dan hasilnya terlihat pada pasar obligasi: imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun dari 4,29% menjadi 4,23%, mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan suku bunga lebih rendah.
Aset Komoditas dan Kripto Juga Tertekan
Tidak hanya pasar ekuitas yang mengalami tekanan, sektor komoditas juga terkena dampak. Harga emas dan perak turun tajam, melanjutkan periode tekanan setelah reli sebelumnya dalam beberapa bulan terakhir. Ekspetasi ekspektasi akan suku bunga yang lebih rendah dan pelaku pasar yang mencari keuntungan cepat tampak menjadi faktor utama penurunan tersebut.
Selain itu, harga Bitcoin juga melemah, turun di bawah level US$69.000, jauh dari rekor tertinggi di atas US$124.000 pada Oktober lalu. Risiko pasar yang meningkat dan koreksi aset spekulatif turut mendorong kripto jatuh.
Reaksi Pasar Global
Di luar AS, pasar Asia menunjukkan tekanan berkelanjutan setelah aksi jual saham teknologi global. Indeks saham Asia-Pacific bergerak lesu, sementara investor memantau dinamika suku bunga global dan data ekonomi makro terbaru.
Sebelumnya dalam seminggu ini, pasar sempat menunjukkan volatilitas termasuk reli dan koreksi logam mulia serta saham teknologi, mencerminkan ketidakpastian global terhadap suku bunga, kebijakan perdagangan, dan arah pasar keuangan secara keseluruhan.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login