Newestindonesia.co.id, Operasi pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 nomor registrasi PK-THT memasuki hari keenam, dengan fokus utama tim SAR gabungan bergeser untuk menemukan jasad dan kemungkinan korban yang masih hidup di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Ratusan petugas dari unsur TNI, Polri, Basarnas, serta relawan — termasuk Mapala, KSR-PMI, dan warga lokal — pagi tadi melakukan apel di halaman Masjid Djaami Darussalam, Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, sebelum melanjutkan penyisiran intensif.
Dalam arahannya, Asisten Operasi Kodam XIV Hasanuddin, Kolonel Inf Dody Triyo Hadi, menegaskan kepada tim untuk tetap bergerak menandai temuan dengan GPS, terutama di medan yang belum disisir. Ia meminta agar temuan kecil dibawa turun, sedangkan temuan besar atau tubuh korban cukup ditandai dan dilaporkan ke posko.
“Beri tanda, aktifkan GPS kalian kemudian informasikan biar kita floating… Jika itu bagian dari tubuh tangan, kaki, kepala … kalau itu korban jiwa jangan dipaksakan untuk evakuasi,” ujar Kolonel Dody kepada wartawan, Kamis (22/1/2026) dikutip melalui detikSulsel.
Sementara itu, Kasi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, menyatakan pencarian diperluas ke area lereng yang belum dijangkau. Meskipun puing-puing pesawat telah ditemukan, tim SAR memastikan penyisiran belum mencapai 100 persen di wilayah tersebut.
Kecelakaan yang terjadi pada Sabtu (17/1) lalu ini menyebabkan pesawat ATR menghantam lereng Gunung Bulusaraung dan hilang kontak dari radar. Hingga operasi SAR hari kelima, dua jenazah telah ditemukan dan berhasil diidentifikasi.
Identifikasi pertama dilakukan oleh tim DVI Mabes Polri terhadap jenazah Florencia Lolita Wibisono (33), yang terungkap sebagai pramugari dan telah diserahkan kepada keluarga pada Rabu (21/1). Satu korban lain, Deden Maulana, seorang pegawai KKP, juga telah teridentifikasi berdasarkan informasi keluarga di posko.
(DAW)




You must be logged in to post a comment Login