Newestindonesia.co.id – Florida, Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, kembali mencatatkan langkah besar dalam sejarah eksplorasi ruang angkasa. Roket raksasa Space Launch System (SLS) yang akan digunakan untuk misi Artemis II resmi dipindahkan dari Vehicle Assembly Building menuju launch pad di Kennedy Space Center. Pergerakan ini menjadi sinyal kuat bahwa misi berawak pertama NASA ke sekitar Bulan dalam lebih dari 50 tahun semakin dekat.
Perjalanan Lambat Roket Raksasa
Dilansir melalui Associated Press (19/1), Dengan tinggi sekitar 98 meter dan berat mencapai 11 juta pon, roket SLS bergerak perlahan menggunakan kendaraan khusus crawler-transporter. Proses pemindahan ini memakan waktu berjam-jam, namun berlangsung aman dan terencana.
Ribuan karyawan NASA beserta keluarga mereka turut menyaksikan momen bersejarah tersebut—sebuah simbol kembalinya ambisi manusia untuk menjelajah Bulan.
Roket SLS ini membawa wahana Orion, kapsul modern yang dirancang untuk melindungi awak dalam perjalanan jauh ke luar orbit Bumi. Orion akan menjadi rumah sementara bagi empat astronot selama misi Artemis II.
Misi Berawak Pertama Sejak Era Apollo
Artemis II merupakan penerbangan berawak pertama NASA menuju Bulan sejak berakhirnya program Apollo pada awal 1970-an. Berbeda dengan Apollo yang langsung mendarat di Bulan, misi Artemis II akan membawa awak mengelilingi Bulan tanpa pendaratan.
Meski demikian, misi ini sangat krusial sebagai uji coba sistem, teknologi, dan kesiapan manusia sebelum misi pendaratan di masa depan.
Empat awak yang akan terlibat terdiri dari tiga astronot NASA dan satu astronot dari Canadian Space Agency, menandai kuatnya kolaborasi internasional dalam eksplorasi ruang angkasa modern.
Tujuan Besar Program Artemis
Program Artemis tidak hanya bertujuan mengulang pencapaian masa lalu, tetapi melangkah lebih jauh. NASA menargetkan pendaratan manusia—termasuk perempuan dan astronot dari latar belakang beragam—di permukaan Bulan, sekaligus membangun fondasi eksplorasi jangka panjang. Bulan dipandang sebagai “batu loncatan” penting sebelum misi manusia ke Mars.
Melalui Artemis, NASA menguji teknologi baru seperti sistem peluncuran super-berat, kapsul berawak generasi terbaru, hingga sistem pendukung kehidupan yang mampu bertahan dalam perjalanan panjang. Semua ini menjadi bekal penting untuk misi antariksa yang lebih ambisius di dekade mendatang.
Jadwal Peluncuran dan Tantangan
Peluncuran Artemis II direncanakan dalam jendela waktu terbatas, dengan kemungkinan paling awal pada awal tahun mendatang, tergantung kesiapan teknis dan kondisi cuaca. NASA menegaskan bahwa keselamatan awak tetap menjadi prioritas utama, sehingga jadwal bisa berubah jika diperlukan.
Pengalaman dari misi Artemis I—yang sukses meluncur tanpa awak dan kembali ke Bumi—menjadi dasar evaluasi menyeluruh sebelum mengirim manusia. Setiap komponen diuji ulang, dari mesin roket hingga sistem navigasi dan perlindungan panas Orion.
Simbol Era Baru Eksplorasi
Pergerakan roket Artemis II ke landasan peluncuran bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan simbol dimulainya era baru eksplorasi Bulan. Setelah lebih dari setengah abad, manusia kembali bersiap menatap Bulan—bukan hanya untuk menjejakkan kaki, tetapi untuk tinggal lebih lama dan membuka jalan menuju planet lain.
Dengan Artemis II, dunia menyaksikan babak penting dalam perjalanan umat manusia ke luar angkasa: kolaboratif, berkelanjutan, dan penuh visi jangka panjang.
(DAW)




You must be logged in to post a comment Login