Newestindonesia.co.id, Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal kembali menghantam dunia industri, khususnya di awal Januari 2026, di mana sejumlah perusahaan raksasa global mulai langkah pemangkasan tenaga kerja. Kebijakan ini dipicu oleh kombinasi tekanan ekonomi, efisiensi operasional, dan pergeseran strategi korporasi global.
Menurut berbagai laporan dan data tren PHK global, kondisi pasar tenaga kerja masih menghadapi tantangan berat setelah badai pemutusan hubungan kerja sepanjang 2025, di mana lebih dari 1,1 juta pekerja dirumahkan dan perluasan restrukturisasi berlanjut hingga awal 2026.
1. Fenomena PHK Menyasar Perusahaan Skala Besar
Beberapa organisasi besar seperti Amazon, FedEx, TransAlta, dan banyak lainnya tercatat mengajukan pemberitahuan awal bahwa mereka akan memulai penurunan jumlah pekerja di Januari 2026. Menurut WARN Tracker — sebuah database pengawasan pemberitahuan PHK — lebih dari 100 perusahaan telah mengajukan pemberitahuan PHK untuk periode awal tahun ini.
Amazon, misalnya, diperkirakan akan memangkas antara 1.001 sampai 2.500 karyawan, sementara perusahaan logistik seperti FedEx juga melakukan pengurangan staf secara signifikan.
2. Alasan Bisnis di Balik Gelombang PHK
Perusahaan-perusahaan besar seringkali menyatakan alasan efisiensi dan restrukturisasi sebagai dasar pemberhentian karyawan. Banyak yang melakukan penataan ulang organisasi, baik untuk menekan biaya operasional maupun merespon perubahan perilaku konsumen pascapandemi. Tren ini juga diperparah oleh percepatan adopsi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), yang mengubah cara bisnis dijalankan meskipun bukan satu-satunya penyebab.
Menurut laporan dari Goldman Sachs, investasi pada teknologi AI diperkirakan terus mendorong pemangkasan tenaga kerja sepanjang 2026, karena perusahaan memprioritaskan produktivitas teknologi di atas tenaga kerja besar.
3. Dampak Ekonomi yang Lebih Luas
Data dari beberapa negara menunjukkan bahwa dampak PHK tidak hanya terjadi pada tahun berjalan. Di Indonesia, misalnya, hingga November 2025 tercatat lebih dari 79.300 tenaga kerja mengalami PHK, meningkat signifikan dibandingkan periode tahun sebelumnya. Pemerintah dan organisasi pengusaha pun mengkhawatirkan tren tersebut dapat berlanjut meningkat di 2026.
Sektor industri lain seperti otomotif hingga media juga turut merasakan tekanan pasar. Misalnya, perusahaan otomotif telah melakukan pengurangan sejumlah pekerja karena permintaan yang melemah, dan perusahaan media mengalami PHK akibat perubahan model bisnis digital yang agresif.
4. Perusahaan dari Beragam Sektor Terlibat
Selain raksasa e-commerce dan logistik, banyak sektor lain yang juga terdampak. Misalnya:
- Perusahaan energi besar seperti ExxonMobil beberapa waktu lalu mengumumkan PHK terhadap sekitar 2.000 karyawan sebagai bagian dari strategi restrukturisasi global.
- Industri ritel besar juga merasakan tekanan: Amazon dilaporkan akan memangkas ratusan pekerja di operasi Eropa sebagai bagian dari penyesuaian pascapandemi.
5. Prediksi Tren 2026
Lembaga keuangan dan analis global memprediksi bahwa tren PHK massal tidak akan sepenuhnya reda pada 2026. Pergeseran investasi ke teknologi baru, otomatisasi proses bisnis, serta tekanan finansial di berbagai sektor bisa memperluas jumlah pekerja terdampak di seluruh dunia.
Para ekonom menyatakan bahwa meskipun pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda stabilisasi makro, tekanan efek teknologi dan restrukturisasi organisasi akan terus memengaruhi ketenagakerjaan secara signifikan dalam jangka menengah.
Fenomena PHK Massal Awal 2026
Fenomena PHK massal pada awal 2026 bukan sebuah kejadian tunggal, namun bagian dari tren global yang berkepanjangan sejak 2025. Tekanan ekonomi, kebutuhan untuk efisiensi, transformasi digital, serta perubahan struktur industri membuat banyak raksasa bisnis melakukan penyesuaian tenaga kerja, yang berdampak luas pada ekonomi dan pasar tenaga kerja global.
Editor: DAW



