Newestindonesia.co.id, Kelompok peretas yang diduga didukung pemerintah Iran, Handala, mengklaim telah membobol akun email pribadi Direktur FBI Kash Patel. Klaim tersebut disampaikan melalui situs resmi mereka, disertai publikasi sejumlah foto lama Patel serta tautan berisi kumpulan data yang disebut berasal dari akun Gmail pribadinya.
FBI membenarkan adanya insiden tersebut. Dalam pernyataan kepada TechCrunch, juru bicara FBI menyampaikan bahwa pihaknya telah mengetahui adanya aktivitas aktor jahat yang menargetkan email pribadi Kash Patel dan langsung mengambil langkah mitigasi.
“Informasi yang dipermasalahkan bersifat historis dan tidak menyangkut informasi pemerintah,” ujar juru bicara FBI.
Verifikasi independen yang dilakukan TechCrunch menunjukkan bahwa setidaknya sebagian email yang dibocorkan memang autentik. Proses verifikasi dilakukan dengan memeriksa message headers, yaitu informasi teknis dalam email yang digunakan untuk memastikan keaslian pesan.
Melalui alat khusus, investigator menemukan bahwa email yang dikirim dari akun Gmail Patel memiliki tanda tangan kriptografis yang sesuai dengan isi pesan. Hal ini mengindikasikan kuat bahwa email tersebut asli.
Dalam beberapa kasus, Patel juga terlihat mengirim email dari alamat Departemen Kehakiman (DOJ) lamanya pada tahun 2014 ke akun Gmail pribadinya. Email tersebut turut diverifikasi dan dinyatakan autentik. Data yang bocor disebut mencakup periode hingga sekitar tahun 2019.
Laporan awal mengenai kebocoran ini pertama kali diungkap oleh Reuters, yang mengutip pejabat Departemen Kehakiman terkait konfirmasi pelanggaran tersebut. Meski demikian, pihak Departemen Kehakiman belum memberikan tanggapan resmi kepada publik.
Di tengah insiden ini, FBI juga mengumumkan hadiah hingga 10 juta dolar AS bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi terkait kelompok peretas Handala. Langkah tersebut menunjukkan peningkatan tekanan hukum terhadap kelompok yang diduga memiliki keterkaitan dengan pemerintah Iran.
Sebelumnya, FBI sempat menyita sejumlah situs milik Handala. Namun, kelompok tersebut kembali beroperasi menggunakan domain baru. Jaksa penuntut Amerika Serikat bahkan telah menuduh Kementerian Intelijen dan Keamanan Iran (MOIS) sebagai pihak di balik operasi kelompok tersebut.
Handala diketahui merupakan kelompok peretas yang aktivitasnya meningkat sejak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memanas pada Februari lalu. Mereka sebelumnya juga mengklaim bertanggung jawab atas serangan siber terhadap perusahaan teknologi medis asal Amerika Serikat, Stryker, yang menyebabkan penghapusan data dalam skala besar.
Selain itu, kelompok ini juga pernah mempublikasikan data pribadi sejumlah individu yang disebut sebagai anggota Pasukan Pertahanan Israel (IDF) serta kontraktor pertahanan.
Hingga laporan ini dipublikasikan, Handala tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar yang dikirimkan melalui berbagai saluran komunikasi. Sementara itu, pesan yang dikirimkan ke alamat Gmail Patel dan nomor telepon yang tercantum dalam dokumen yang bocor juga belum mendapatkan respons.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login