Newestindonesia.co.id, Fenomena anak pemberontak kerap menjadi sorotan di tengah masyarakat. Anak yang melawan orang tua, membantah aturan, hingga menunjukkan perilaku agresif sering kali langsung dicap negatif. Padahal, para ahli menyebut perilaku pemberontakan pada anak—terutama remaja—tidak muncul tanpa sebab.
Psikolog perkembangan menjelaskan bahwa fase pemberontakan merupakan bagian dari proses pencarian identitas diri. Anak berusaha menunjukkan kemandirian, menentukan pilihan hidup, serta mencari pengakuan dari lingkungan sekitar.
Namun, ketika perilaku ini berlangsung berlebihan dan mengarah pada tindakan destruktif, kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya masalah yang lebih dalam.
Faktor Penyebab Anak Menjadi Pemberontak
Beberapa faktor yang kerap memicu sikap pemberontakan pada anak antara lain:
- Kurangnya komunikasi yang sehat
Anak merasa tidak didengar atau selalu disalahkan, sehingga memilih melawan sebagai bentuk protes. - Pola asuh terlalu otoriter atau terlalu permisif
Aturan yang terlalu kaku atau sebaliknya, tanpa batasan sama sekali, dapat memicu konflik internal pada anak. - Pengaruh lingkungan dan pergaulan
Tekanan dari teman sebaya, media sosial, dan lingkungan sekolah turut membentuk perilaku anak. - Masalah emosional yang tidak tersalurkan
Stres, kecemasan, atau trauma yang tidak ditangani dapat muncul dalam bentuk perilaku memberontak.
Dampak Jika Tidak Ditangani
Jika dibiarkan, sikap pemberontakan yang ekstrem berpotensi berdampak pada prestasi akademik, hubungan sosial, hingga kesehatan mental anak. Tidak sedikit kasus di mana anak menarik diri dari keluarga, terlibat perilaku berisiko, atau mengalami depresi.
Cara Orang Tua Menghadapi Anak Pemberontak
Pakar menyarankan orang tua untuk tidak langsung menghukum atau memarahi anak. Pendekatan yang lebih efektif meliputi:
- Mendengarkan tanpa menghakimi
- Menetapkan batasan yang jelas namun fleksibel
- Memberikan ruang bagi anak untuk berpendapat
- Mencari bantuan profesional jika diperlukan
Dengan komunikasi yang terbuka dan empati, perilaku pemberontakan dapat diarahkan menjadi proses pendewasaan yang sehat.
Penutup
Anak pemberontak bukanlah musuh dalam keluarga, melainkan sinyal bahwa ada kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Memahami akar permasalahan menjadi langkah awal untuk membangun kembali hubungan yang harmonis antara anak dan orang tua.
(DAW)




You must be logged in to post a comment Login