Newestindonesia.co.id, Banyak orang masih bertanya-tanya, sebenarnya garpu dan pisau dipegang di tangan kanan atau kiri saat makan? Pertanyaan ini kerap muncul dalam acara formal seperti jamuan makan resmi, pernikahan, hingga makan malam bisnis. Meski terlihat sepele, tata cara memegang alat makan ternyata memiliki aturan tersendiri dalam etika internasional.
Etika makan atau table manners bukan sekadar soal gaya, tetapi mencerminkan kesopanan, penghormatan terhadap tuan rumah, dan pemahaman terhadap budaya. Dalam situasi tertentu, cara memegang garpu dan pisau bahkan bisa memberikan kesan profesionalisme seseorang.
Aturan Dasar dalam Etika Barat
Dalam standar etika Barat yang banyak digunakan di hotel, restoran fine dining, dan acara resmi, aturan dasarnya cukup jelas.
Garpu dipegang dengan tangan kiri, sedangkan pisau dipegang dengan tangan kanan. Pisau digunakan untuk memotong makanan, sementara garpu berfungsi untuk menusuk dan memasukkan makanan ke mulut.
Posisi ini berlaku terutama saat menyantap makanan utama seperti steak, ayam panggang, atau hidangan lain yang perlu dipotong.
Namun, ada perbedaan kecil antara gaya Eropa dan gaya Amerika dalam praktiknya.
Gaya Eropa (Continental Style)
Dalam gaya Eropa atau continental style, garpu tetap berada di tangan kiri sejak awal hingga akhir makan. Setelah makanan dipotong menggunakan pisau di tangan kanan, garpu langsung digunakan untuk menyuap makanan tanpa berpindah tangan.
Cara ini dianggap lebih efisien dan elegan karena tidak ada perpindahan alat makan antar tangan.
Gaya ini banyak digunakan di negara-negara Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Italia, serta lazim diterapkan dalam jamuan resmi internasional.
Gaya Amerika
Sementara itu, dalam gaya Amerika, setelah makanan dipotong, pisau biasanya diletakkan di piring. Garpu kemudian dipindahkan ke tangan kanan untuk menyuap makanan.
Perpindahan ini menjadi ciri khas gaya makan Amerika. Meski berbeda, keduanya tetap dianggap sopan dalam konteks budaya masing-masing.
Bagaimana di Indonesia?
Di Indonesia, etika makan cenderung lebih fleksibel dan dipengaruhi budaya lokal. Banyak orang terbiasa memegang sendok di tangan kanan dan garpu di tangan kiri. Garpu biasanya berfungsi sebagai pendorong makanan ke sendok, bukan untuk menusuk seperti dalam budaya Barat.
Ketika menggunakan pisau, kebanyakan orang Indonesia tetap mengikuti pola umum internasional, yakni pisau di tangan kanan dan garpu di tangan kiri.
Namun, dalam acara formal bertaraf internasional, mengikuti standar etika Barat tetap dianjurkan agar tidak terjadi kesalahpahaman atau dianggap kurang memahami tata krama.
Posisi Saat Beristirahat dan Selesai Makan
Selain cara memegang, posisi meletakkan garpu dan pisau juga memiliki arti tertentu.
Saat sedang beristirahat atau jeda makan, pisau dan garpu biasanya diletakkan membentuk huruf V terbalik di atas piring, dengan ujung keduanya saling berhadapan.
Sementara itu, ketika sudah selesai makan, garpu dan pisau diletakkan sejajar mengarah ke posisi jam 5 di atas piring. Posisi ini menandakan kepada pelayan bahwa hidangan telah selesai dinikmati dan piring bisa diangkat.
Detail kecil ini sering diperhatikan dalam restoran fine dining.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Beberapa kesalahan umum yang kerap dilakukan antara lain:
- Menggenggam pisau seperti memegang pena.
- Mengangkat siku terlalu tinggi saat memotong.
- Menggerakkan alat makan berlebihan.
- Memotong semua makanan sekaligus di awal.
Dalam etika formal, makanan sebaiknya dipotong satu per satu sesuai kebutuhan, bukan sekaligus. Hal ini menjaga suhu dan tampilan hidangan tetap baik.
Selain itu, mengeluarkan suara berlebihan saat mengunyah atau membenturkan alat makan juga dianggap kurang sopan.
Kapan Aturan Ini Penting?
Etika penggunaan garpu dan pisau menjadi sangat penting dalam situasi berikut:
- Makan malam bisnis.
- Jamuan resmi pemerintahan.
- Undangan pernikahan formal.
- Acara diplomatik atau internasional.
- Fine dining di hotel berbintang.
Dalam konteks profesional, kesalahan kecil dalam etika makan bisa memengaruhi kesan pertama. Oleh karena itu, memahami aturan dasar menjadi nilai tambah.
Bagaimana dengan Orang Kid al?
Bagi orang yang kidal, etika internasional tetap menyarankan mengikuti standar umum saat acara resmi. Namun, dalam situasi santai, tentu dapat disesuaikan dengan kenyamanan masing-masing.
Pada prinsipnya, etika makan bertujuan menciptakan kenyamanan bersama, bukan menyulitkan.
Lebih dari Sekadar Tata Cara
Ahli etiket internasional menyebut bahwa etika makan adalah bentuk komunikasi non-verbal. Cara seseorang memegang alat makan, duduk, hingga berbicara saat makan mencerminkan karakter dan latar belakang sosialnya.
Namun, penting untuk diingat bahwa setiap budaya memiliki aturan berbeda. Di beberapa negara Asia Timur, penggunaan sumpit menjadi standar utama, sementara di Timur Tengah, makan menggunakan tangan kanan tanpa alat makan juga lazim dan dianggap sopan.
Karena itu, memahami konteks budaya menjadi kunci utama.
Kesimpulan
Jadi, garpu dan pisau sebaiknya dipegang di tangan mana?
Dalam standar internasional:
- Pisau di tangan kanan.
- Garpu di tangan kiri.
- Tidak berpindah tangan dalam gaya Eropa.
- Bisa berpindah tangan dalam gaya Amerika.
Meski demikian, fleksibilitas tetap ada tergantung budaya dan situasi. Yang terpenting adalah menjaga kesopanan, tidak mengganggu orang lain, dan menghormati tuan rumah.
Memahami etika makan bukan berarti harus kaku, tetapi menunjukkan perhatian terhadap detail dan penghormatan dalam interaksi sosial.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login