Rupiah Tak Berdaya! Dolar AS Masih Perkasa Di Level Rp18.160

Rupiah-Menguat-150525-Adm-4.jpg

Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Kamis (15/5/2025). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/bar/aa.

Newestindonesia.co.id, Nilai tukar rupiah kembali dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (9/6/2026). Meski masih berada di bawah tekanan eksternal, pelemahan mata uang Garuda terlihat lebih terbatas dibandingkan beberapa sesi perdagangan sebelumnya.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah pada pukul 09.07 WIB berada di posisi Rp18.160 per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan pelemahan tipis sekitar 0,06% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.170 per dolar AS.

Pada awal perdagangan, rupiah sempat bergerak dalam rentang Rp18.150 hingga Rp18.160 per dolar AS, mencerminkan masih tingginya kehati-hatian pelaku pasar dalam merespons berbagai sentimen global maupun domestik.

Pelemahan rupiah terjadi ketika dolar AS masih mempertahankan kekuatannya di pasar global. Mata uang Negeri Paman Sam tersebut sebelumnya mendapat dukungan dari sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang dinilai solid, sekaligus meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik dunia.

Kondisi tersebut membuat sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, masih menghadapi tekanan. Namun demikian, tekanan terhadap rupiah pada perdagangan pagi ini terlihat tidak sebesar beberapa hari terakhir.

Pergerakan yang relatif lebih stabil tersebut sejalan dengan membaiknya sentimen domestik. Pelaku pasar mulai merespons positif sinyal penguatan koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.

Koordinasi fiskal dan moneter dinilai menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor, terutama di tengah volatilitas pasar global yang masih tinggi akibat berbagai risiko eksternal.

Di sisi lain, perhatian investor masih tertuju pada perkembangan geopolitik global, terutama konflik di Timur Tengah yang hingga kini masih menjadi faktor utama pembentuk sentimen risk-off di pasar keuangan internasional.

Baca juga:  Purbaya Bakal Pakai Uang Penertiban Hutan Rp6,6 Triliun Tutupi Defisit APBN

Ketidakpastian yang berasal dari kawasan tersebut terus mendorong investor global untuk mengalihkan dana ke aset-aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Sementara itu, pergerakan rupiah pada pagi hari juga terjadi beriringan dengan penguatan pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal perdagangan tercatat menguat lebih dari 1%.

Kenaikan IHSG tersebut mengindikasikan mulai kembali masuknya minat risiko (risk appetite) investor ke aset-aset domestik setelah sebelumnya pasar mengalami tekanan cukup besar akibat sentimen eksternal.

Pelaku pasar kini akan terus mencermati perkembangan data ekonomi global, arah kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia, serta langkah-langkah stabilisasi yang dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga ketahanan pasar keuangan Indonesia.

Dengan kombinasi sentimen global yang masih menantang dan dukungan domestik yang mulai menguat, pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif namun berpotensi lebih terkendali dibandingkan beberapa pekan sebelumnya.

(DAW)