Newestindonesia.co.id, Kenaikan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah mendorong berbagai negara mencari alternatif energi yang lebih stabil. Presiden Prabowo Subianto menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) dengan memanfaatkan sumber energi nabati yang berasal dari tanaman lokal.
Dalam konferensi video yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki sumber daya alam yang melimpah untuk memproduksi energi sendiri. Menurutnya, berbagai tanaman seperti kelapa sawit, singkong, jagung, hingga tebu dapat diolah menjadi bahan bakar alternatif.
“Kita memiliki karunia besar dari Yang Maha Kuasa bahwa kita nanti mampu kebutuhan BBM kita bukan dari impor luar negeri, bahkan dari tanaman-tanaman kita, dari kelapa sawit, dari singkong, dari jagung, dari tebu,” ujar Prabowo di kanal YouTube Sekretariat Presiden, dikutip melalui Warta Ekonomi.
Program Biodiesel Sudah Berjalan
Indonesia sebenarnya telah memulai langkah menuju kemandirian energi melalui program biodiesel berbasis kelapa sawit. Program tersebut berkembang dari mandatori campuran B20, kemudian B30, B35, hingga B40 yang mulai diterapkan penuh sejak awal 2025.
Dalam skema ini, setiap liter solar yang beredar di Indonesia mengandung campuran 40 persen biodiesel berbahan sawit. Program tersebut menjadi salah satu strategi pemerintah untuk mengurangi impor energi sekaligus memanfaatkan sumber daya domestik.
Pemerintah juga merencanakan peningkatan ke tahap B50 pada 2026. Namun hingga awal tahun ini, implementasinya masih dalam tahap kajian teknis dan mempertimbangkan kondisi pasar energi global.
Bioetanol dari Singkong dan Jagung
Selain biodiesel dari sawit, pemerintah juga melihat peluang pengembangan bioetanol sebagai campuran bensin. Bahan bakunya dapat berasal dari tanaman seperti singkong, jagung, dan tebu, yang selama ini telah masuk dalam peta jalan energi nasional.
Bioetanol tersebut dapat menjadi padanan kebijakan biodiesel pada bensin, dengan skema campuran yang bertujuan menekan konsumsi bahan bakar fosil dan meningkatkan penggunaan energi terbarukan.
Meski demikian, skala pengembangan bioetanol di Indonesia masih jauh lebih kecil dibandingkan program biodiesel sawit yang telah berjalan selama beberapa tahun terakhir.
Tantangan Infrastruktur dan Investasi
Walau potensinya besar, upaya menggantikan impor BBM dengan energi nabati bukan perkara mudah. Konsumsi energi Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 1,5 juta barel setara minyak per hari, sehingga membutuhkan lahan, teknologi pengolahan, dan infrastruktur distribusi yang sangat besar jika ingin beralih ke energi berbasis tanaman.
Selain itu, bahan baku seperti kelapa sawit juga memiliki kompetisi penggunaan dengan industri lain seperti pangan, oleokimia, dan ekspor. Ketika harga komoditas global tinggi, produsen cenderung memilih menjual ke pasar internasional daripada memasok kebutuhan biodiesel domestik dengan harga yang disubsidi pemerintah.
Beban Subsidi Energi
Program energi nabati juga membutuhkan dukungan fiskal dari pemerintah. Sebagai contoh, implementasi program B40 diperkirakan membutuhkan subsidi sekitar Rp35,5 triliun pada 2025 untuk menjaga keseimbangan harga di pasar domestik.
Sementara itu, pengembangan bioetanol dari singkong dan jagung menghadapi tantangan serupa karena biaya produksinya masih lebih tinggi dibandingkan bensin berbasis minyak bumi. Tanpa insentif atau subsidi, harga bioetanol belum sepenuhnya kompetitif di pasar.
Meski demikian, pengembangan energi nabati tetap dipandang sebagai langkah strategis jangka panjang untuk meningkatkan ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor BBM.
Dengan dukungan infrastruktur, kepastian harga bagi petani, serta investasi berkelanjutan di sektor pengolahan energi, gagasan pemanfaatan tanaman sebagai sumber energi diharapkan dapat menjadi salah satu pilar transisi energi Indonesia di masa depan.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login