Newestindonesia.co.id, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa laju pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5–6 persen yang diraih sepanjang 2025 belum bisa dianggap sebagai prestasi. Pernyataan ini disampaikan dalam diskusi bertajuk “Dinamika Ekonomi Global dan Nasional” yang digelar di Kantor DEN, Jakarta Pusat, Jumat (13/2/2026).
Menurut Luhut, meski pertumbuhan masih terjaga di atas 5 persen di tengah ketidakpastian geopolitik dan fragmentasi ekonomi global, capaian tersebut belum mencerminkan potensi maksimal Indonesia.
“Jadi kalau 5 persen menurut saya bukan prestasi atau sampai 6 persen tidak prestasi. Kami bermimpi 8–9 persen dalam beberapa tahun ke depan, dan kita harus bisa memelihara itu paling tidak dua dekade untuk kita bisa menjadi high income country dan kita tidak terperangkap dari middle income trap,” ujar Luhut dikutip melalui detikFinance.
Luhut menegaskan bahwa target pertumbuhan sekitar 8 persen sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto, yang ingin mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi nasional agar Indonesia keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah (middle income trap).
“Kita mau 6–7 persen, 8–9 persen sebenarnya, tapi ingat bonus demografi kita habis tahun 2041–2042. Kalau itu habis, kita sudah pasti di middle income trap. Jadi semua harus sadar demografi bonus itu sudah akan habis tahun 2040-an. Ini satu titik atau garis yang harus kita perhatikan,” lanjut Luhut.
Strategi Dongkrak Pertumbuhan: Investasi dan Pasar Modal
Dalam kesempatan yang sama, Luhut menyampaikan bahwa peningkatan investasi menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Ia menilai kontribusi APBN terhadap pertumbuhan masih relatif kecil, sementara investasi memiliki peran besar dalam penciptaan lapangan pekerjaan dan memperkuat pertumbuhan.
“Investasi harus kita tambah, karena APBN hanya 15–16 persen terhadap pertumbuhan ekonomi dampaknya. Sisanya 86 persen atau berapa persen itu tadi dari investasi. Jadi investor harus kita terima dengan karpet merah,” ujar Luhut.
Luhut juga menyarankan perbaikan pasar modal sebagai langkah awal untuk menarik minat investor, khususnya modal asing. Menurutnya, pasar modal yang sehat menjadi indikator positif bagi iklim investasi di Indonesia.
“Kita belajar dari India bagaimana pasar modal direformasi, direstrukturisasi, itu mempunyai dampak sembilan kali investasi yang masuk ke India,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa ketidakpastian global tak membuat Indonesia kehilangan daya tarik, namun negara perlu meningkatkan daya saing dan integrasi di pasar investasi internasional.
Kesimpulan Utama
Luhut menyebut pertumbuhan ekonomi 5–6% bukan prestasi dan perlu akselerasi ke 8–9%.
Target 8% dipandang penting untuk menghindarkan Indonesia dari middle income trap.
Investasi dan reformasi pasar modal dipandang sebagai kunci pendorong pertumbuhan.
Bonus demografi yang akan habis sekitar 2041–2042 menjadi batas waktu penting untuk mempercepat pertumbuhan.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login