Newestindonesia.co.id, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan tekanan kuat di pasar, melanjutkan tren penurunan tajam yang belum sesuai dengan prediksi pejabat pemerintah dan pelaku pasar modal.
Hingga sesi pertama perdagangan Senin (2/2), IHSG tercatat melemah 5,31% ke level 7.887,16, bahkan sempat turun ke 7.858,39—angka yang jauh di bawah ekspektasi penguatan yang sempat dilontarkan beberapa pejabat negara pada akhir pekan lalu.
Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun dari RTI Business, volume perdagangan mencapai 35,35 miliar saham senilai Rp 18,94 triliun pada sesi pagi ini. Mayoritas saham tercatat mengalami koreksi signifikan, dengan 715 saham melemah, sedangkan 65 menguat dan 33 stagnan.
Beban Tekanan Pasar dari Saham-Saham Konglomerasi
Analis pasar mencatat bahwa tekanan terbesar pada indeks berasal dari saham-saham perusahaan konglomerasi dan sektor komoditas. Menurut riset dari MNC Sekuritas seperti dilansir detikFinance:
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melemah 14,73% ke Rp 220 per saham,
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turun 12,83% ke Rp 3.670,
- PT Darma Henwa Tbk (DEWA) turun 14,81% ke Rp 460,
- PT Petrosea Tbk (PTRO) anjlok 14,89% ke Rp 6.000,
- PT RMK Energy Tbk (RMKE) terkoreksi 13,27% ke Rp 4.380 per lembar.
Penurunan ini terjadi di tengah sentimen global yang masih fluktuatif setelah gejolak pasar baru-baru ini, termasuk tekanan dari penilaian lembaga pemeringkat internasional dan kekhawatiran investor asing terhadap tren pasar Indonesia.
Ramalan Pemerintah yang Tak Tercapai
Sebelumnya, sejumlah pejabat pemerintah optimistis IHSG dapat menguat di awal minggu ini. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa dengan selesainya proses pergantian direksi di Bursa Efek Indonesia, para investor akan kembali melihat fundamental perekonomian Indonesia yang dinilai kuat.
“Mereka akan lihat ke fundamental kan. Fundamental ekonominya bagus, saya perbaiki terus. Akan membaik terus ke depan, tahun ini mungkin ekonominya bisa tumbuh, bisa saya dorong mendekati 6%,” ujar Purbaya saat ditemui wartawan di Wisma Danantara, Jakarta, akhir pekan lalu. “Harusnya bursanya akan naik. Anda nggak usah khawatir.”
Keyakinan serupa juga disampaikan oleh CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, yang menilai bahwa reformasi di pasar modal akan meningkatkan kepercayaan investor asing. Menurut Rosan, pertemuannya dengan sejumlah investor global menunjukkan respons positif terhadap langkah-langkah perbaikan yang sedang dijalankan.
“Mereka akan semakin confidence dengan pasar kita, tapi dengan aksi yang kita lakukan beberapa hari ini mereka juga merespons sangat positif. Jadi insyaAllah saya yakin hari Senin dan berikutnya pasar saham kita akan rebound dan akan berjalan dengan baik,” ujarnya di Bursa Efek Indonesia pada Minggu (1/2/2026).
Reaksi Pasar dan Prospek Pemulihan
Namun pada kenyataannya, pasar masih menunjukkan ketidakpastian tinggi. Koreksi tajam ini menjadi lanjutan dari gejolak pekan lalu yang juga dipicu oleh sentimen negatif global, termasuk perubahan status indeks oleh lembaga internasional dan tren penjualan berskala besar pada saham-saham blue chip.
Para analis memperkirakan bahwa tekanan pasar masih akan berlanjut jika belum ada respons kebijakan cepat dari otoritas terkait, seperti stabilisasi tingkat suku bunga, kebijakan fiskal yang lebih agresif, atau sinyal kepercayaan dari institusi investasi besar.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti Sekarang



You must be logged in to post a comment Login