Newestindonesia.co.id – NTB, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) resmi mengaktifkan komando terpadu lintas organisasi perangkat daerah (OPD) sebagai langkah konkret antisipasi potensi cuaca ekstrem yang diprakirakan terjadi pada dasarian III Januari 2026 atau periode 21–31 Januari 2026. Langkah kesiapsiagaan itu dipimpin langsung oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB sebagai sektor utama penanggulangan bencana.
Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari informasi dan analisis terkini yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan potensi hujan lebat hingga sangat lebat, khususnya di wilayah-wilayah rawan bencana di sekitar lereng Gunung Rinjani dan Gunung Tambora.
“Tidak menunggu kejadian” — Strategi Pemerintah Provinsi NTB
Juru Bicara Pemerintah Provinsi NTB, Ahsanul Khalik, menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak menunggu terjadinya bencana, melainkan membangun kesiapsiagaan sejak jauh hari berdasarkan prakiraan cuaca dan kondisi cuaca saat ini.
“Pemerintah Provinsi NTB tidak menunggu kejadian. Kesiapsiagaan dibangun berbasis prakiraan cuaca dan upaya pencegahan untuk meminimalkan risiko serta menjaga keselamatan masyarakat.” — Ahsanul Khalik, Juru Bicara Pemprov NTB
Menurut BMKG, wilayah seperti Sembalun, Bayan, Labuhan Badas, Pekat, dan Tambora diproyeksikan mengalami potensi hujan dengan intensitas lebih dari 150 milimeter per dasarian dengan peluang mencapai 70–90 persen.
Kawasan ini dikenal sebagai sentra pertanian dan perkebunan strategis, namun sekaligus memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.




You must be logged in to post a comment Login