Newestindonesia.co.id, Pawai ogoh-ogoh menyemarakkan perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di Kota Batam, Kepulauan Riau, sekaligus menjadi simbol kuat toleransi antarumat beragama di tengah bulan Ramadhan.
Kegiatan yang digelar oleh Kementerian Agama (Kemenag) Kota Batam ini berlangsung dengan penyesuaian waktu dan rute agar tidak mengganggu masyarakat yang menjalankan ibadah puasa.
“Kami baru memulai pawai setelah waktu berbuka puasa, dan rute yang digunakan hanya satu ruas jalan agar tidak menghambat aktivitas masyarakat lainnya,” kata Penyelenggara Hindu Kemenag Kota Batam Made Karmawan di Batam, dikutip melalui Antara.
Pawai ogoh-ogoh merupakan bagian dari tradisi umat Hindu dalam rangkaian perayaan Nyepi. Dalam kegiatan tersebut, patung ogoh-ogoh yang identik dengan bentuk raksasa diarak keliling sebelum akhirnya dimusnahkan sebagai simbol pembersihan diri.
Made Karmawan menjelaskan bahwa ogoh-ogoh melambangkan energi negatif yang harus disucikan.
“Ogoh-ogoh ini merupakan simbol dari Bhuta Kala atau hal-hal negatif yang diwujudkan dalam patung raksasa seram. Nantinya, setelah diarak, ogoh-ogoh akan dibakar sebagai simbol pembersihan diri dan lingkungan sebelum memasuki Hari Raya Nyepi,” katanya.
Selain menjadi bagian dari ritual keagamaan, pawai ini juga memiliki makna spiritual yang mendalam bagi umat Hindu.
Tokoh umat Hindu Provinsi Kepulauan Riau Wayan Catrayasa menyebut bahwa Nyepi bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk introspeksi diri dan menjaga keseimbangan alam.
“Hari Raya Nyepi memiliki empat pantangan utama, yaitu Amati Geni, Amati Lelungan, Amati Karya, dan Amati Lelanguan. Tujuannya adalah untuk memberikan waktu bagi alam semesta agar beristirahat dan kembali ke keseimbangan,” ujarnya.
Sementara itu, Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Provinsi Kepri Purwadi menambahkan bahwa pawai ogoh-ogoh merupakan bagian dari upacara Tawur Kesanga yang bertujuan menciptakan kedamaian.
“Kami berharap melalui perayaan ini, umat Hindu dapat lebih memahami makna spiritual dari Nyepi, sekaligus mempererat hubungan harmonis dengan umat beragama lainnya,” katanya.
Lebih lanjut, Wayan Catrayasa mengajak masyarakat Batam untuk terus menjaga kerukunan dalam kehidupan sehari-hari.
“Mari kita tingkatkan rasa toleransi dan saling menghormati antarumat beragama di Kota Batam. Keberagaman ini adalah aset yang harus kita jaga demi Batam yang madani dan kondusif,” tutupnya.
Pawai ogoh-ogoh di Batam tidak hanya menjadi tradisi budaya, tetapi juga mencerminkan harmoni sosial di tengah keberagaman, terutama saat perayaan Nyepi bertepatan dengan bulan suci Ramadhan.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login