Newestindonesia.co.id – Bali, Rahinan Purnama merupakan salah satu hari suci penting bagi umat Hindu di Bali. Hari raya ini diperingati setiap satu bulan sekali, tepat saat bulan berada pada fase purnama atau bulan penuh. Bagi umat Hindu, Rahinan Purnama bukan sekadar penanda waktu, tetapi memiliki makna spiritual yang mendalam.
Pengertian Rahinan Purnama
Dalam kalender Bali atau Wariga, Purnama menandai puncak perjalanan bulan yang diyakini membawa pengaruh besar terhadap keseimbangan alam dan batin manusia. Kata rahinan sendiri berarti hari suci atau hari raya, sehingga Rahinan Purnama dimaknai sebagai hari penyucian diri lahir dan batin.
Makna Spiritual Rahinan Purnama
Umat Hindu di Bali meyakini bahwa pada saat Purnama, energi alam berada pada titik paling sempurna. Cahaya bulan penuh dilambangkan sebagai penerang pikiran dan jiwa, membantu manusia mengendalikan sifat negatif serta memperkuat kesadaran spiritual.
Rahinan Purnama juga dimaknai sebagai waktu yang baik untuk:
- Introspeksi diri
- Meningkatkan pengendalian pikiran (manacika)
- Menjaga kesucian perkataan (wacika)
- Melakukan perbuatan baik (kayika)
Ketiga unsur tersebut dikenal sebagai Tri Kaya Parisudha, ajaran utama dalam kehidupan umat Hindu Bali.
Pelaksanaan Persembahyangan
Pada Rahinan Purnama, umat Hindu biasanya melaksanakan persembahyangan di:
- Pura keluarga (sanggah/merajan)
- Pura desa
- Pura kahyangan jagat
Persembahyangan dilakukan dengan menghaturkan banten purnama, sebagai wujud rasa syukur dan bhakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya.
Makna Sosial dan Kehidupan Sehari-hari
Selain bermakna religius, Rahinan Purnama juga menjadi momentum untuk menjaga keharmonisan hubungan antarmanusia dan lingkungan. Banyak umat memilih untuk menahan diri dari emosi berlebihan, memperbanyak perbuatan baik, serta menjaga keseimbangan hidup sesuai konsep Tri Hita Karana.
Penutup
Rahinan Purnama bukan hanya tradisi rutin, melainkan bagian penting dari kehidupan spiritual umat Hindu di Bali. Melalui perayaan ini, umat diajak untuk selalu menjaga keseimbangan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan, sekaligus mempererat hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.
Editor: DAW



