Newestindonesia.co.id, Kondisi cuaca ekstrem yang melanda Jakarta dan sekitarnya dalam beberapa waktu terakhir dinilai semakin mengganggu mobilitas warga dan berdampak nyata bagi dunia usaha. Intensitas hujan yang tinggi memicu banjir, kemacetan, serta risiko keselamatan publik di sejumlah titik ibu kota.
Ketua Umum BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jaya, Ryan Haroen, menyatakan bahwa tantangan ini terasa langsung oleh pelaku usaha, terutama yang bergerak di sektor jasa, logistik, dan UMKM yang sangat bergantung pada mobilitas harian.
“Dalam situasi cuaca ekstrem seperti sekarang, tentu ada tantangan nyata bagi dunia usaha, khususnya bagi pengusaha muda yang aktivitasnya sangat erat dengan mobilitas harian,” ujar Ryan dikutip Kamis (29/1/2026).
Dukungan terhadap PJJ dan WFH Situasional
Hipmi Jaya menilai langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang memutuskan untuk memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan Work From Home (WFH) secara situasional merupakan kebijakan yang tepat dan terukur. Menurut Ryan, pendekatan ini responsif terhadap risiko keselamatan tanpa mematikan aktivitas usaha di sektor ekonomi.
“Imbauan penerapan PJJ dan WFH hanya pada saat curah hujan tinggi menunjukkan pendekatan kebijakan yang proporsional. Pemerintah dinilai berupaya menjaga keseimbangan antara keselamatan publik dan keberlangsungan kegiatan ekonomi,” kata Ryan.
Kebijakan Pemerintah DKI Jakarta
Sejalan dengan rekomendasi pelaku usaha, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pendidikan dan Dinas Tenaga Kerja telah mengeluarkan instruksi agar siswa menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh hingga akhir Januari dan memberikan fleksibilitas kerja jarak jauh bagi pekerja ketika kondisi cuaca buruk.
Kebijakan tersebut juga telah diatur dalam surat edaran terkait sistem kerja fleksibel yang mencakup WFH maupun penyesuaian jam kerja bila diperlukan, dengan tujuan utama melindungi keselamatan warga sekaligus menjaga produktivitas ekonomi.
Dampak Cuaca dan Prediksi BMKG
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim hujan di Indonesia — khususnya wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara — diprediksi akan tetap intens hingga akhir Februari 2026, dengan potensi hujan lebat yang bisa memicu banjir dan gangguan transportasi.
Akibatnya, sejumlah kawasan di Jabodetabek, termasuk Jakarta, tetap waspada karena potensi hujan lebat dan angin kencang masih tinggi. Kondisi ini diperparah oleh beberapa laporan gangguan seperti pohon tumbang yang menimpa fasilitas umum dan kendaraan akibat angin kencang.
Tanggapan Pihak Lain dan Upaya Antisipasi
Tidak hanya dunia usaha, anggota DPRD DKI Jakarta juga mendukung kebijakan PJJ untuk menjamin keselamatan peserta didik di tengah ancaman banjir dan cuaca buruk. Para wakil rakyat menyerukan agar pemerintah juga menyiapkan langkah komprehensif untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem secara sosial dan operasional.
Sementara itu, pemerintah terus melakukan short-term mitigation serta memperkuat sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan bencana untuk meminimalkan kerugian yang mungkin timbul akibat fenomena cuaca ekstrem ini.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login