Newestindonesia.co.id, Seorang dosen wanita dari Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang berinisial DLL (35) ditemukan tewas di sebuah hotel kawasan Gajahmungkur, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Seperti dilansir melalui Kompas (20/11), Jenazah dosen Untag Semarang tersebut pertama kali ditemukan pihak hotel pada Senin (17/11/2025) sekitar pukul 05.40 WIB. Dosen Untag yang meninggal di kamar 210 dalam keadaan tanpa busana dan tergeletak di lantai di samping tempat tidur. Korban diketahui merupakan dosen hukum pidana dan belum menikah.
Sementara itu, polisi yang pertama kali menemukan jasad tersebut adalah seorang perwira menengah berinisial B, berpangkat AKBP, yang sudah berkeluarga dan bertugas di Direktorat Samapta unit Dalmas.
Sebelum peristiwa itu, korban diketahui sempat bersama AKBP B, yang disebut sebagai pria terakhir yang terlihat bersama korban. Peristiwa ini menjadi sorotan publik, terutama karena ada unsur kejanggalan yang terjadi.
Fakta dosen Untag Semarang meninggal di hotel
Kasus kematian dosen muda Untag Semarang di sebuah kostel kawasan Gajahmungkur mengundang sorotan luas karena banyaknya kejanggalan yang muncul sejak awal.
Berikut sederet fakta yang perlu diketahui:
1. Diduga meninggal karena sakit Kapolsek Gajahmungkur, AKP Nasori, membenarkan temuan jenazah dosen perempuan tersebut. Namun ia belum dapat memaparkan secara rinci kronologi maupun penyebab kematiannya.
Polisi telah memeriksa sejumlah saksi untuk menelusuri lebih jauh peristiwa itu.
“Keterangan para saksi,” ujar Nasori saat dikonfirmasi, dikutip dari Kompas.com, Selasa (18/11/2025). Dari hasil penyelidikan awal, petugas tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
“Dugaan sementara karena sakit,” tambahnya.
2. Dikaitkan dengan perwira polisi
Dilansir dari Kompas.com, Selasa (18/11/2025), seorang perwira menengah Polda Jateng berinisial AKBP B terseret dalam kasus kematian dosen muda Untag Semarang setelah disebut sebagai saksi kunci. AKBP B ternyata juga menjadi orang pertama yang melaporkan penemuan jenazah di kamar hotel.
Polda Jateng membenarkan bahwa AKBP B merupakan anggota aktif Direktorat Samapta dan menegaskan bahwa penyidikan kini berada dalam pengawasan langsung mereka.
Meski keterlibatan AKBP B belum dapat dipastikan, polisi menyatakan proses penyelidikan akan berjalan transparan dan menjamin penindakan jika ditemukan pelanggaran.
3. Polisi kumpulkan bukti termasuk CCTV
Kasatreskrim Polrestabes Semarang AKBP Andika Dharma Sena membenarkan bahwa seorang anggota polisi menjadi orang pertama yang menemukan korban.
“Kami ambil keterangannya untuk mengetahui peristiwa ini,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa hubungan antara polisi tersebut dan korban masih didalami, sementara penyidik juga mengamankan sejumlah bukti, termasuk rekaman CCTV hotel. Terkait kondisi korban, Andika menjelaskan tidak ada tanda-tanda kekerasan.
“Hasil visum luar tidak ditemukan tanda kekerasan,” terangnya.
“Kami ambil keterangannya untuk mengetahui peristiwa ini,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa hubungan antara polisi tersebut dan korban masih didalami, sementara penyidik juga mengamankan sejumlah bukti, termasuk rekaman CCTV hotel. Terkait kondisi korban, Andika menjelaskan tidak ada tanda-tanda kekerasan. “Hasil visum luar tidak ditemukan tanda kekerasan,” terangnya.
Meski begitu, autopsi tetap dilakukan untuk memastikan penyebab kematian. “Kami lakukan autopsi untuk memastikan kematian korban, terutama bagi keluarga,” katanya.
4. Kecurigaan komunitas alumni dan tuntutan transparansi
Komunitas Muda Mudi Alumni Untag Semarang menilai kasus kematian dosen muda ini janggal. AKBP B yang tidak bertugas menangani tindak pidana justru menjadi orang pertama yang menemukan korban.
Mereka juga menyebut korban pernah menceritakan sosok polisi tersebut kepada mahasiswanya.
“Kami melihat kejadian ini janggal karena ada oknum polisi Dalmas yang justru menemukan korban pertama kali,” kata Ketua Umum komunitas, Jansen Henry Kurniawan.
Ia menambahkan bahwa polisi itu pula yang melaporkan temuan jasad ke pihak hotel dan kepolisian. Meski menekankan asas praduga tak bersalah, Jansen menyebut ada dugaan kedekatan antara korban dan AKBP B.
“Kami mendesak kepolisian mengusut kasus ini secara terang benderang dan tidak melindungi oknum tertentu,” tegasnya.
5. Keluarga juga nilai ada kejanggalan
Sebagaimana diberitakan Kompas.com, Rabu (19/11/2025), meski polisi menduga korban meninggal akibat sakit, pihak keluarga mencatat sejumlah kejanggalan dan masih menunggu hasil autopsi resmi.
Kerabat korban, Tiwi, mengatakan keluarga baru menerima kabar pada Senin petang, padahal DLL ditemukan meninggal sekitar pukul 05.30 WIB. Kondisi korban yang ditemukan tanpa busana, serta perbedaan wajah jenazah dalam foto dengan rupa aslinya, menambah kecurigaan. Keluarga juga menyebut adanya bagian tubuh yang tampak mengeluarkan darah.
“Ini yang membuat keluarga masih merasa janggal,” ujar Tiwi, Selasa (18/11/2025). Ia menambahkan, langkah hukum lanjutan masih menunggu keputusan keluarga besar.
6. Korban ternyata satu KK dengan AKBP B
Tiwi juga mengungkap temuan baru yang makin memperkuat kecurigaan keluarga. Korban ternyata tercatat satu kartu keluarga (KK) dengan AKBP B, perwira polisi yang menjadi orang pertama menemukan jenazah.
“Iya, korban satu KK dengan saksi pertama (AKBP B), katanya sebagai saudara. Kecurigaan muncul ketika adik saya menanyakan alamat korban dan saksi pertama kok sama, ternyata mereka satu KK,” ujar Tiwi.
Ia menambahkan, keluarga terkejut karena selama ini DLL tidak pernah bercerita mengenai sosok polisi tersebut. Menurut informasi yang diterima keluarga, DLL dimasukkan ke KK milik AKBP B agar bisa mengurus perpindahan KTP ke Semarang. Namun, keluarga mempertanyakan mengapa polisi itu tidak hadir saat proses autopsi di rumah sakit. “Kalau memang saudara, harusnya hadir. Tapi sampai sore, dia tidak datang,” kata Tiwi.
7. Korban dikenal pendiam dan tidak memiliki riwayat penyakit
Tiwi menyebut DLL sebagai sosok pendiam yang sudah merantau ke Semarang sekitar empat tahun terakhir.
Berasal dari Purwokerto, ia pindah setelah kedua orangtuanya meninggal dan kemudian menjadi dosen tetap di Untag pada 2021 atau 2022. Meski ditemukan di sebuah kostel, keluarga menjelaskan bahwa DLL sebenarnya memiliki kamar kos lain tak jauh dari lokasi kejadian.
“Kabarnya, akhir-akhir ini korban memang sering keluar masuk kostel itu,” ujar Tiwi. Keluarga juga menegaskan bahwa DLL tidak memiliki riwayat penyakit tertentu dan selama ini selalu tampak sehat. “Korban dari dulu kelihatan sehat, tidak ada tanda-tanda sakit,” kata Tiwi.
8. Autopsi selesai, polisi lakukan pendalaman
Tim forensik dilaporkan telah menyelesaikan proses autopsi jenazah dosen Untag Semarang, namun polisi masih menunggu hasil tertulis resmi.
“Sudah selesai otopsi. Belum dapat hasil tertulis,” kata Dirreskrimum Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Dwi Subagio, Rabu (19/11/2025).
Penyidik pun memperdalam penyelidikan: seluruh saksi yang berada di lokasi dimintai keterangan, termasuk seorang AKBP yang disebut berada di kamar yang sama dengan korban. “Masih pendalaman,” ujar Dwi, seraya menegaskan bahwa pemeriksaan terhadap pihak-pihak di lokasi termasuk anggota polisi tersebut sedang berlanjut.
9. Mahasiswa tuntut keadilan untuk DLL
Dikutip dari Kompas.com, Rabu (19/11/2025), ratusan mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang menggeruduk Mapolda Jawa Tengah, Rabu (19/11/2025). Mereka menuntut transparansi penuh dalam penanganan kasus kematian dosen muda mereka, DLL.
Di halaman Mapolda, para mahasiswa membawa poster dan spanduk bertuliskan “Justice For Levi”, lengkap dengan foto almarhumah yang mengenakan jilbab bermotif bunga. Mereka berorasi, melakukan aksi simbolik, dan menyerukan agar kematian dosen hukum pidana tersebut diusut tuntas tanpa ada pihak yang dilindungi.
Editor: DAW
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login