Newestindonesia.co.id, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa fenomena salju abadi di puncak Pegunungan Jayawijaya, Papua, yang selama ini menjadi salah satu kekayaan alam Indonesia, diperkirakan akan lenyap sepenuhnya pada tahun 2027 atau 2028 jika tren perubahan iklim terus berlangsung.
Menurut BMKG, penyusutan gletser dan tutupan es di Puncak Jayawijaya merupakan dampak nyata dari pemanasan global dan perubahan iklim yang terjadi di seluruh dunia. Dalam pengamatan yang dilakukan beberapa tahun terakhir, BMKG menemukan penurunan drastis terhadap luas dan ketebalan lapisan es di wilayah tersebut.
Pakar klimatologi dari BMKG, Donaldi Sukma Permana, menyatakan bahwa tren mencairnya salju abadi telah menunjukkan percepatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
“Berdasarkan data pemantauan, jika kondisi terus berlanjut seperti sekarang, kami memproyeksikan salju abadi ini akan benar-benar hilang dalam kurun waktu 1–2 tahun mendatang,” kata Donaldi.
BMKG mencatat bahwa tutupan es yang semula cukup tebal kini telah menyusut drastis. Pada awal pengukuran, lapisan es di puncak tersebut mencapai puluhan meter, namun dalam beberapa dekade terakhir terus menipis, bahkan tinggal tersisa beberapa meter saja karena laju pencairan yang lebih cepat dari sebelumnya. Fenomena iklim seperti El Niño turut mempercepat proses ini dengan meningkatkan suhu udara permukaan yang mempercepat peleburan es tropis tersebut.
Salju abadi di Puncak Jayawijaya bukan hanya menjadi ikon alam Indonesia, tetapi juga memiliki nilai ilmiah dan budaya. Keberadaannya menarik perhatian para peneliti, ilmuwan, dan pecinta alam dari seluruh dunia karena fenomena ini merupakan salah satu dari sedikit gletser tropis yang tersisa di belahan bumi bagian timur.
Selain dampak visual dan estetika, pencairan gletser juga memengaruhi ekosistem setempat dan bahkan berkontribusi terhadap kenaikan permukaan air laut secara global.
Menurut BMKG, perubahan ini akan memengaruhi flora, fauna, dan pola hujan di kawasan Pegunungan Jayawijaya, serta berdampak pada kehidupan masyarakat adat yang selama ini bergantung pada keseimbangan lingkungan di sekitar wilayah tersebut.
BMKG menegaskan bahwa upaya mitigasi perubahan iklim harus menjadi prioritas bersama, baik oleh pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat luas. Langkah seperti pengurangan gas rumah kaca, pemanfaatan energi baru terbarukan, dan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan dinilai krusial untuk menghambat laju pemanasan global yang terus berlangsung.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login