Newestindonesia.co.id, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian memberikan kabar baik terkait perkembangan pemulihan pascabencana yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera. Berdasarkan data terbaru, sebanyak 38 dari total 52 kabupaten/kota yang terdampak bencana kini telah dinyatakan kembali normal.
“Kalau ditotalkan, kira-kira yang sudah normal itu 38 dari 52 daerah, sekitar 73 persen. Yang mendekati normal 6 persen, dan yang masih perlu perhatian khusus ada 11 daerah atau sekitar 21 persen,” ujar Tito kepada wartawan di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Senin (23/3/2026) dikutip melalui detikNews.
Tito menjelaskan bahwa indikator pemulihan ini tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik, melainkan juga berfungsinya kembali roda pemerintahan, layanan kesehatan, akses pendidikan, jalur transportasi, hingga geliat ekonomi masyarakat di pasar-pasar.
Fokus pada 11 Wilayah Prioritas
Meski sebagian besar sudah pulih, Pemerintah kini mengalihkan fokus kekuatan kementerian dan lembaga ke 11 wilayah yang masih memerlukan perhatian khusus. Wilayah-wilayah ini tersebar di tiga provinsi utama, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Di Provinsi Aceh, dari 18 wilayah terdampak, sebanyak 10 daerah sudah pulih. Namun, tujuh daerah masih menjadi fokus utama penanganan, yaitu Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tengah, dan Aceh Tamiang.
Untuk Sumatera Utara, 15 dari 18 daerah terdampak telah pulih. Satu daerah, Tapanuli Selatan, dinyatakan mendekati normal, sementara Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara masih dalam kategori prioritas.
Sedangkan di Sumatera Barat, 13 dari 16 wilayah terdampak telah pulih. Kabupaten Tanah Datar tercatat mendekati normal, sementara wilayah Agam dan Padang Pariaman masih dalam proses percepatan pemulihan.
“Saya tidak mengatakan enggak normal, tapi kami akan fokus kekuatan di 11 ini,” tegas Tito selaku Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera.
Infrastruktur dan Kondisi Pengungsi
Mengenai infrastruktur strategis, Tito memastikan bahwa jalan nasional di tiga provinsi tersebut sudah 100 persen fungsional. Begitu pula dengan jembatan nasional yang kini sudah bisa dilalui, meskipun beberapa di antaranya masih menggunakan konstruksi darurat atau sementara.
Sektor kemanusiaan juga menunjukkan progres luar biasa. Jumlah warga yang bertahan di pengungsian menurun drastis dari angka jutaan menjadi ratusan jiwa saja.
“Dari 2 juta lebih pengungsi pada awal Desember, sekarang tersisa kurang lebih 173 jiwa (47 kepala keluarga). Ini sudah sangat jauh berkurang,” kata mantan Kapolri tersebut.
Pemerintah juga telah menyiapkan skema bantuan bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Tersedia pilihan hunian sementara (huntara) atau Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp 600 ribu per bulan selama tiga bulan. Selain itu, bantuan perbaikan rumah diberikan dengan rincian Rp 15 juta untuk kategori rusak ringan hingga Rp 60 juta untuk rumah rusak berat.
Mendagri menambahkan, tantangan jangka panjang yang kini dihadapi adalah normalisasi sungai akibat sedimentasi pascabencana.
“Sungai bagi saya penting, ini akan makan waktu panjang karena jumlahnya banyak,” pungkasnya.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login