Newestindonesia.co.id, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mencatat 62 kasus infeksi Influenza A (H3N2) subclade K, yang populer disebut sebagai “super flu”, telah terdeteksi di Indonesia hingga akhir Desember 2025. Temuan ini merupakan hasil pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) melalui jaringan surveilans rutin nasional.
Menurut keterangan Kemenkes, varian super flu ini terpantau melalui 88 sentinel influenza like illness (ILI) dan severe acute respiratory infection (SARI) yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk puskesmas, balai kesehatan, dan rumah sakit. Temuan kasus pertama dilaporkan sejak Agustus 2025.
Sebaran Kasus dan Provinsi Terdampak
Data epidemiologi menunjukkan bahwa kasus super flu tersebar di delapan provinsi, dengan tiga wilayah memiliki jumlah kasus terbanyak, yakni:
- Jawa Timur: 23 kasus
- Kalimantan Selatan: 18 kasus
- Jawa Barat: 10 kasus
Sementara beberapa provinsi lain seperti Sumatera Selatan (5 kasus), Jawa Tengah, Sulawesi Utara, dan DI Yogyakarta juga melaporkan temuan kasus.
Profil Kasus: Perempuan dan Anak Rentan
Analisis data menunjukkan bahwa mayoritas kasus terjadi pada perempuan (sekitar 64 persen), sementara anak usia 1–10 tahun menjadi kelompok usia dengan proporsi kasus tertinggi, yakni sekitar 35 persen dari total kasus.
Kemenkes: Situasi Terkendali, Keparahan Tidak Lebih Tinggi
Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menegaskan bahwa hingga kini tidak ada bukti bahwa infeksi subclade K ini memiliki tingkat keparahan lebih tinggi dibandingkan varian influenza lainnya. “Situasi epidemiologi saat ini menunjukkan super flu tidak menunjukkan peningkatan keparahan dibanding jenis influenza A lain,” jelasnya.
Lebih jauh, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga tidak mencatat peningkatan risiko fatalitas akibat subclade K ini, dan gejala yang muncul umumnya serupa influenza musiman, seperti demam tinggi, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan.
Menkes: Tidak Perlu Kepanikan, Tapi Waspada
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Ia menekankan bahwa influenza—termasuk varian subclade K—bukanlah penyakit yang mematikan seperti COVID-19 atau TBC. Ia mengimbau masyarakat menjaga pola hidup sehat, cukup tidur, konsumsi gizi seimbang, serta menjaga imunitas tubuh sebagai langkah utama pencegahan.
“Kalau sistem imun kita bagus, tubuh kita dapat melawan virus influenza tanpa komplikasi serius,” kata Menkes saat berbicara kepada wartawan.
Ia juga menekankan pentingnya penggunaan masker bagi mereka yang sakit, terutama di ruang publik atau area dengan mobilitas tinggi, serta penerapan etika batuk dan kebersihan tangan untuk meminimalkan penularan.
Apakah Vaksin Influenza Masih Efektif?
Walaupun istilah “super flu” sempat menimbulkan kekhawatiran publik, Kemenkes dan sejumlah pakar kesehatan menyatakan bahwa vaksin influenza tahunan masih efektif untuk mengurangi risiko sakit berat dan komplikasi, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, bayi di atas 6 bulan, serta penderita penyakit penyerta seperti diabetes atau gangguan paru kronis.
Dr. Ngabila Salama dari Universitas Indonesia menambahkan bahwa vaksinasi tahunan tetap menjadi strategi utama untuk menekan angka penularan dan menghentikan sirkulasi virus terutama di kelompok yang berisiko tinggi mengalami komplikasi.
Bagaimana Penularan Terjadi?
Infeksi influenza, termasuk subclade K, menyebar melalui droplet pernapasan saat batuk, bersin, atau berbicara, serta kontak dengan permukaan yang terkontaminasi virus. Oleh karena itu, langkah seperti menjaga jarak dari orang sakit, memakai masker saat gejala muncul, dan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tetap menjadi kunci pencegahan.
Kesimpulan:
Kementerian Kesehatan RI mengonfirmasi 62 kasus influenza A (H3N2) subclade K atau ‘super flu’ di Indonesia hingga akhir Desember 2025, tersebar di delapan provinsi, dengan dominasi kasus pada perempuan dan anak. Meski meningkatnya temuan varian ini perlu diwaspadai, otoritas kesehatan nasional memastikan situasi terkendali, tanpa bukti peningkatan keparahan dibanding flu musiman, serta menekankan pentingnya vaksinasi dan perilaku sehat untuk pencegahan.
Sumber: Berbagai Sumber, Editor: DAW




You must be logged in to post a comment Login