Newestindonesia.co.id, Thailand berhasil mencapai kesepakatan dengan Iran untuk memungkinkan kapal-kapal tanker minyaknya melintasi Selat Hormuz secara aman di tengah konflik yang masih berlangsung di kawasan tersebut.
Kesepakatan ini diumumkan langsung oleh Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, dalam konferensi pers pada Sabtu (28/3/2026) waktu setempat. Ia menegaskan bahwa langkah ini akan membantu meredakan kekhawatiran terkait pasokan energi negaranya.
“Sebuah kesepakatan telah tercapai untuk memungkinkan kapal-kapal tanker minyak Thailand melintas dengan aman melalui Selat Hormuz,” ujar Anutin dikutip melalui AFP.
Ia menambahkan bahwa adanya kesepakatan tersebut meningkatkan keyakinan bahwa gangguan distribusi energi seperti yang terjadi sebelumnya tidak akan kembali terulang.
Kesepakatan ini muncul di tengah memanasnya situasi di Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menjadi salah satu urat nadi distribusi energi global. Konflik antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 telah berdampak signifikan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut.
Sejak awal Maret, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan mengalami pembatasan ketat. Kondisi ini memicu gangguan rantai pasok global, meningkatkan biaya pengiriman, serta mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Berdasarkan data Badan Informasi Energi AS, lebih dari 80 persen minyak mentah dan gas alam cair (LNG) yang melintasi Selat Hormuz dikirim ke kawasan Asia. Dampaknya, negara-negara Asia Tenggara termasuk Thailand merasakan tekanan besar terhadap pasokan bahan bakar.
Di Thailand sendiri, kondisi ini sempat memicu antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar akibat terganggunya distribusi energi.
Anutin menegaskan pemerintahnya akan terus menyesuaikan kebijakan menghadapi dinamika situasi global.
“Pemerintah akan terus beradaptasi dengan situasi yang berkembang dan menyesuaikan langkah-langkah untuk meminimalkan dampak terhadap masyarakat,” ujarnya.
Sebelumnya, insiden keamanan juga terjadi di kawasan tersebut. Sebuah kapal kargo berbendera Thailand dilaporkan diserang di perairan strategis itu, yang menyebabkan tiga awak kapal hilang.
Selain itu, laporan dari badan keamanan maritim Angkatan Laut Inggris (UKMTO) menyebut sedikitnya 24 kapal komersial, termasuk 11 kapal tanker, mengalami serangan atau insiden di wilayah Teluk, Selat Hormuz, dan Teluk Oman sepanjang Maret ini.
Data dari platform pelacakan Kpler bahkan menunjukkan bahwa pengiriman komoditas melalui Selat Hormuz sempat anjlok hingga 95 persen dalam periode 1 hingga 26 Maret, seiring eskalasi konflik yang terjadi.
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap ditutup bagi kapal-kapal yang berafiliasi dengan “musuh” Iran, serta memperingatkan akan adanya tindakan tegas terhadap pelanggaran.
Kesepakatan antara Thailand dan Iran ini menjadi salah satu langkah diplomatik penting di tengah ketegangan kawasan, sekaligus membuka kembali akses vital bagi distribusi energi global yang sempat terganggu.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login