Newestindonesia.co.id, Ribuan umat Muslim Palestina berkumpul untuk melaksanakan shalat Jumat pertama di bulan suci Ramadan di kompleks Masjid Al-Aqsa, meskipun dibatasi ketat oleh otoritas Israel pada Jumat (20 Februari 2026). Peristiwa ini terjadi di tengah situasi yang tetap tegang setelah gencatan senjata yang rapuh dalam konflik Israel–Hamas.
Pembatasan Masuk & Ketegangan Keamanan
Menurut otoritas Israel, hanya 10.000 orang dari Tepi Barat yang diperbolehkan memasuki Yerusalem untuk salat Jumat tersebut, dan kebijakan solo ini hanya mengizinkan:
- Pria berusia 55 tahun ke atas
- Wanita berusia 50 tahun ke atas
- Anak di bawah 12 tahun
Pembatasan ini diberlakukan dengan alasan “keamanan dan ketertiban umum”.
Para jemaah yang biasanya datang dalam jumlah ratusan ribu kini harus melalui pemeriksaan ketat dan batasan akses, membuat kehadiran lebih kecil dari biasanya. Jerusalem Islamic Waqf menyatakan sekitar 80.000 orang mengikuti salat Jumat, angka yang jauh di bawah masa sebelum konflik 2023.
“Kami butuh lebih banyak orang di sini,” ujar Ezaldeen Mustafah, seorang jamaah asal Tepi Barat yang ikut salat Jumat. “Rasanya tidak lengkap tanpa saudara-saudara kami yang tertahan,” dikutip melalui The Washington Post.
Ramadan dalam Bayang-Bayang Konflik
Ramadan kali ini diperingati di tengah situasi pascakonflik yang belum sepenuhnya kondusif di wilayah Palestina. Di Gaza, meskipun terdapat gencatan senjata yang dimediasi internasional sejak Oktober 2025, kenyataan di lapangan masih berat:
- Banyak keluarga kehilangan rumah dan sumber penghidupan.
- Ormas setempat mengoperasikan dapur umum karena banyak warga kekurangan makanan.
- Ibadah dilakukan di tempat darurat atau ruang sekolah yang rusak karena perang.
Di Gaza City, Ramiz Firwana, seorang warga yang menyaksikan perayaan Ramadan di lingkungan yang hancur, mengatakan:
“Ramadan adalah waktu yang suci, tetapi sungguh sulit merasakan kegembiraan dengan luka yang masih segar.”
Ruang Ibadah di Tengah Reruntuhan
Lebih jauh di Gaza Strip, sejumlah masjid telah hancur atau rusak parah akibat konflik yang berlangsung selama dua tahun terakhir. Menurut laporan Reuters, lebih dari 800 masjid di wilayah tersebut mengalami kerusakan atau kehancuran total, menjadikan umat Muslim terpaksa menjalankan salat di tempat-tempat darurat.
Dilansir melalui Associated Press, Beberapa komunitas mencoba mempertahankan tradisi Ramadan dengan cara sederhana seperti menghias reruntuhan dengan pesan damai, sebuah upaya untuk tetap mempertahankan makna spiritual bulan suci tersebut.
Tantangan Ekonomi & Sosial
Keluarga seperti al-Zamli di Khan Younis terpaksa menahan lapar dan kekurangan bahan makanan untuk berbuka puasa, mengandalkan porsi bantuan dari dapur umum. Al-Zamli mengatakan:
“Dulu Ramadan adalah saat kebersamaan keluarga. Sekarang kami hanya berharap anak-anak bisa makan.”
Dampak Konflik yang Masih Berlangsung
Meskipun gencatan senjata telah ditegakkan, insiden harian masih sering terjadi, termasuk serangan sporadis dan pembatasan pergerakan. Selain itu, korban jiwa akibat konflik selama lebih dari dua tahun diperkirakan mencapai puluhan ribu, termasuk banyak warga sipil.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login