Newestindonesia.co.id, Gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang melanda Iran sejak akhir Desember 2025 berubah menjadi kerusuhan berdarah. Lembaga pemantau hak asasi manusia melaporkan lebih dari 500 orang tewas dalam aksi protes besar-besaran di berbagai kota, memicu pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional tiga hari untuk menghormati para korban.
Diberitakan melalui Associated Press (12/1), Kematian puluhan hingga ratusan orang tersebut terjadi di tengah penumpasan protes yang menurut kelompok aktivis luar negeri, termasuk Human Rights Activists News Agency (HRANA), telah menewaskan setidaknya 538 hingga 544 orang dan menahan lebih dari 10.000 demonstran.
Pemerintah Iran menyatakan periode berkabung itu sebagai penghormatan kepada mereka yang disebutnya “martir gerakan perlawanan nasional” dalam menghadapi kekerasan yang menurut media pemerintah disebabkan oleh pihak yang digambarkan sebagai teroris.
Kekerasan Mematikan di Jalanan: Saksi & Korban
Beberapa laporan hak asasi manusia menyebutkan sebagian besar korban adalah pengunjuk rasa sipil, termasuk mahasiswa dan remaja yang ditembak dari jarak dekat selama bentrokan dengan aparat keamanan. Di antaranya, seorang mahasiswa Iran berusia 23 tahun, Rubina Aminian, dilaporkan tewas akibat tembakan di kepala saat bergabung dalam aksi protes di Teheran.
Konflik ini menambah ketegangan dalam negeri yang sudah dipicu oleh krisis ekonomi, nilai mata uang yang jatuh, serta ketidakpuasan publik terhadap pemerintahan teokratis yang dinilai otoriter.
Respons Pemerintah & Tanggapan Internasional
Pemerintah Iran, yang memutus akses internet di seluruh negeri, melakukan crack down besar-besaran terhadap protes dengan menempatkan pasukan keamanan di titik-titik utama. Negara itu juga memperingatkan negara asing, terutama Amerika Serikat dan Israel, bahwa mereka akan menjadi “target yang sah” jika melakukan intervensi militer terhadap Iran terkait penumpasan demonstran.
Keputusan untuk berkabung sekaligus memobilisasi pendukung pemerintah melalui “pawai nasional menentang kekerasan” dipandang sebagai langkah untuk meredam ketegangan domestik sekaligus menolak kritik internasional.
Analisis: Aksi Protes Terbesar Sejak 2022
Para pengamat internasional menilai kerusuhan ini sebagai gelombang protes terbesar di Iran sejak 2022, yang terkait tidak hanya dengan isu ekonomi tetapi juga tuntutan reformasi politik yang lebih luas. Laporan independen mencatat bahwa angka korban sebenarnya bisa jauh lebih tinggi karena sulitnya verifikasi di tengah pemadaman internet.
Editor: DAW




You must be logged in to post a comment Login