Newestindonesia.co.id, Pemerintah China tengah menyelidiki salah satu perwira militer paling seniornya, Jenderal Zhang Youxia, atas dugaan pelanggaran disiplin dan hukum yang serius, dalam apa yang disebut analis sebagai bagian dari pemberantasan korupsi besar-besaran dan restrukturisasi militer yang dipimpin Presiden Xi Jinping.
Pernyataan resmi dari Kementerian Pertahanan China menyatakan bahwa Zhang — yang menjabat Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC) — sedang dalam pemeriksaan oleh Partai Komunis terkait pelanggaran yang belum dirinci publik. Pada saat yang sama, panglima Liu Zhenli, Kepala Staf Departemen Staf Gabungan CMC, juga ikut dilakukan penyelidikan serupa.
“Pemeriksaan ini menunjukkan tekad partai untuk memperkuat disiplin dan akuntabilitas bahkan di tingkat tertinggi,” ujar seorang analis militer yang enggan disebutkan namanya kepada AP News.
Latar Belakang Zhang Youxia
Jenderal Zhang, 75 tahun, merupakan salah satu komandan militer paling berpengalaman di China. Ia bergabung dengan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) sejak 1968 dan dikenal luas karena perannya dalam modernisasi Angkatan Darat serta kedekatannya dengan lingkaran pemimpin tertinggi China.
Namun, lokasi Zhang yang tiba-tiba menghilang dari publik sejak akhir tahun 2025 dan pernyataan resmi yang minim detail telah memicu spekulasi tentang masalah yang lebih dalam di kepemimpinan militer China.
Seorang pengamat keamanan Asia mengatakan kepada Reuters:
“Ini bukan hanya soal korupsi — ini juga mencerminkan pergolakan internal di tubuh militer yang ingin menunjukkan loyalitas absolut pada Presiden Xi.”
Bagian dari Pemberantasan Korupsi yang Lebih Luas
Penyelidikan terhadap Zhang merupakan bagian dari kampanye anti-korupsi yang lebih luas yang sudah berlangsung bertahun-tahun, sejak Xi Jinping mengambil alih kekuasaan pada 2012. Lebih dari 200.000 pejabat di berbagai sektor telah dikenai tindakan disiplin sejak saat itu, termasuk beberapa perwira tinggi militer lainnya.
Tahun lalu, misalnya, Wakil Ketua CMC lainnya, He Weidong, dipecat dari jabatannya karena pelanggaran korupsi dan digantikan oleh jenderal lain yang dianggap lebih loyal. Dua mantan menteri pertahanan juga telah dikeluarkan dari Partai Komunis terkait kasus yang sama.
Dampak Politik dan Strategis
Dalam konteks yang lebih luas, pemutakhiran ini terjadi ketika Amerika Serikat merilis Strategi Pertahanan Nasional baru yang mengakui pertumbuhan kekuatan militer China. Strategi tersebut menegaskan bahwa meskipun AS siap bersaing, tujuan utamanya bukan menggulingkan rezim Beijing, melainkan menjaga perdamaian yang stabil dan saling diterima.
Seorang diplomat Barat yang berbicara secara anonim mengatakan:
“China ingin membentuk angkatan bersenjata yang tak hanya kuat, tetapi juga sepenuhnya setia pada garis pusat Partai. Itu berarti siapapun yang dianggap menyimpang bisa menjadi target.”
Pengamat militer lainnya mencatat bahwa pengurangan perwira tinggi karena investigasi ini dapat berdampak pada proses modernisasi militer dan ketahanan operasional PLA, meskipun Beijing secara resmi membungkusnya sebagai upaya internal memperkuat disiplin dan akuntabilitas.
(DAW)




You must be logged in to post a comment Login