Newestindonesia.co.id, Iran dilaporkan mempertimbangkan untuk mengizinkan sejumlah kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz dengan syarat transaksi minyak dilakukan menggunakan mata uang yuan China.
Laporan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia setelah konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang berdampak pada keamanan jalur pelayaran internasional.
Mengutip laporan media CNN International, seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya menyatakan bahwa pemerintah Teheran sedang menyiapkan skema pengelolaan lalu lintas tanker minyak di Selat Hormuz, termasuk kemungkinan membuka akses terbatas bagi kapal-kapal tertentu.
Dalam skema tersebut, kapal tanker dapat melintas jika minyak yang mereka angkut diperdagangkan menggunakan yuan China, bukan dolar Amerika Serikat yang selama ini mendominasi transaksi minyak global.
Kebijakan ini dinilai sebagai bagian dari strategi Iran untuk menekan dominasi dolar dalam perdagangan energi sekaligus memperkuat hubungan ekonomi dengan China, yang selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu pembeli utama minyak Iran.
Jalur Minyak Dunia yang Sangat Strategis
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia bagi perdagangan energi global. Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman ini menjadi rute utama bagi pengiriman minyak dari negara-negara Timur Tengah ke pasar internasional.
Diperkirakan sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut setiap harinya. Gangguan pada Selat Hormuz sering kali berdampak langsung pada harga energi global dan stabilitas pasar minyak.
Ketegangan di kawasan tersebut meningkat setelah serangkaian serangan terhadap kapal dagang di sekitar selat, yang menyebabkan banyak kapal tanker menghindari jalur tersebut karena alasan keamanan.
Sejumlah kapal bahkan dilaporkan mematikan sistem pelacakan mereka untuk menghindari risiko serangan selama melewati wilayah tersebut.
Strategi Geopolitik dan Ekonomi
Jika kebijakan pembayaran menggunakan yuan benar-benar diterapkan, langkah itu dapat memiliki implikasi geopolitik yang besar terhadap sistem perdagangan energi dunia.
Selama puluhan tahun, perdagangan minyak internasional sebagian besar dilakukan menggunakan dolar AS, yang dikenal dengan istilah “petrodollar”. Namun dalam beberapa tahun terakhir, beberapa negara mulai mempertimbangkan penggunaan mata uang alternatif seperti yuan atau rubel dalam transaksi energi.
Langkah Iran ini juga dipandang sebagai upaya untuk mengurangi dampak sanksi ekonomi Barat sekaligus memperkuat kerja sama energi dengan China.
Meski demikian, hingga kini belum ada keputusan resmi dari pemerintah Iran mengenai implementasi kebijakan tersebut. Laporan yang beredar masih berdasarkan pernyataan pejabat yang tidak disebutkan identitasnya.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login